Sempat Galau, Rupiah Akhirnya Berakhir Stagnan

Rupiah - tandichen.blogspot.comRupiah - tandichen.blogspot.com

JAKARTA – Rupiah dan sebagian besar berisiko agaknya galau sepanjang hari ini (13/11) ketika optimisme tentang vaksin corona perlahan dihalau penyebaran kasus COVID-19 yang semakin meluas. Setelah dibuka menguat, kemudian melemah, menurut paparan Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda akhirnya ditutup stagnan di level Rp14.170 per AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan pukul 10.00 WIB tadi menetapkan referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.222 per dolar AS, terdepresiasi 35 poin atau 0,25% dari sebelumnya di level Rp14.187 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang bergerak variatif terhadap , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,33% dialami peso Filipina dan pelemahan terdalam sebesar 0,32% menghampiri rupee India.

Menurut analisis CNBC Indonesia, saat ini investor memang sedang di persimpangan. Di satu sisi, harapan akan hadirnya vaksin virus corona semakin nyata, setelah calon vaksin buatan Pfizer dan BioNTech disebut punya tingkat efektivitas lebih dari 90. Namun, di sisi lain, pelaku cemas akan penyebaran COVID-19 yang semakin cepat dan meluas, mencapai 51.878.261 orang berdasarkan data WHO per 12 November 2020.

Kegalauan investor ini membuat mereka memilih bermain aman, menyebabkan pergerakan aset safe haven seperti yen Jepang naik tipis pada hari Jumat. Mata uang Negeri Matahari Terbit tersebut terpantau naik 0,20% menjadi 104,91 terhadap greenback pada pukul 10.04 WIB, sedangkan mata uang Paman Sam menguat 0,038 poin atau 0,04% ke level 93,001 pada pukul 11.07 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, yen memang tetap turun sekitar 1,5% terhadap dolar AS sepanjang minggu ini, penurunan mingguan paling dalam lima bulan, dan terdepresiasi terhadap sebagian besar pasangan mata uang. Namun, kenaikan dari posisi terendah, bersamaan dengan melemahnya sejumlah mata uang berisiko, menunjukkan masih banyak kehati-hatian di pasar keuangan.

“Ada alasan untuk optimistis tentang pemulihan ekonomi , dan kemungkinan terjadinya pandemi di tahun yang akan datang, tetapi kita belum sepenuhnya keluar dari masalah ini,” kata ahli strategi mata uang senior bank National Australia, Rodrigo Catril. “Dolar Australia terus menemukan udaranya menipis di atas 73 sen.”

Loading...