Gagal Jaga Tren Positif, Rupiah Berbalik Melemah di Penutupan

Rupiah ternyata gagal untuk mempertahankan keunggulan di tengah jeda reli AS. Menurut laporan Index pukul 15.56 WIB, mata uang Garuda harus menutup sesi dagang awal pekan (28/11) ini dengan pelemahan tipis 7 poin atau 0,05% ke Rp13.532 per AS setelah bergerak di rentang Rp13.401 hingga Rp13.538 per AS.

Rupiah sebenarnya mampu dibuka menguat 75 poin atau 0,55% ke posisi Rp13.450 per . Istirahat siang, mata uang Garuda kembali naik 32 poin atau 0,24% ke Rp13.493 per . Sayangnya, jelang tutup dagang atau pukul 15.41 WIB, spot berbalik tipis 2 poin atau 0,01% ke Rp13.527 per dolar AS hingga di teritori negatif.

Sebelumnya, Ekonom Samuel Sekuritas , Rangga Cipta, sempat mengatakan bahwa tekanan pelemahan mata uang rupiah mereda sejalan dengan mata uang di kawasan Asia yang bergerak menguat terhadap dolar AS. “Proyeksi pasar terhadap inflasi November 2016 yang diperkirakan masih stabil juga bisa menjadi salah satu faktor positif bagi mata uang domestik,” katanya.

Kepala Riset , Ariston Tjendra, menambahkan bahwa dolar AS yang melemah terhadap mayoritas mata uang utama dunia dikarenakan menurunnya yield AS, sehingga memicu adanya aksi ambil untung. “Sebagian investor melakukan aksi ambil untung menjelang kebijakan The Fed pada pertengahan nanti,” katanya.

Sementara itu, yen Jepang memimpin penguatan mata uang di Asia hari ini dengan kenaikan tajam 1,37 poin atau 1,21% ke 111,85 per dolar AS hingga pukul 12.47 WIB setelah dibuka di posisi 112,82 per dolar AS. Yen menguat terhadap the greenback bersamaan dengan mata uang euro dan mata uang emerging market lainnya.

“Dengan reli dolar AS yang berhenti sejenak, kita akan melihat posisi panjang dolar AS yang terhapus,” ujar Kepala Riset Regional Australia & New Zealand Banking Group Ltd., Khoon Goh. “Setelah yen mengalami pelemahan terbesar di antara mata uang G-10 sejak Pemilihan Presiden AS, wajar jika mata uang tersebut rebound cukup besar.”

Loading...