Gagal Jaga Tren Positif, Rupiah Berbalik Melemah di Penutupan

ternyata gagal untuk mempertahankan keunggulan di tengah jeda reli dolar AS. Menurut laporan Bloomberg Index pukul 15.56 WIB, mata uang Garuda harus menutup sesi dagang awal pekan (28/11) ini dengan pelemahan tipis 7 poin atau 0,05% ke Rp13.532 per dolar AS setelah bergerak di rentang Rp13.401 hingga Rp13.538 per dolar AS.

Rupiah sebenarnya mampu dibuka menguat 75 poin atau 0,55% ke posisi Rp13.450 per dolar AS. Istirahat siang, mata uang Garuda kembali naik 32 poin atau 0,24% ke Rp13.493 per dolar AS. Sayangnya, jelang tutup dagang atau pukul 15.41 WIB, spot berbalik terdepresiasi tipis 2 poin atau 0,01% ke Rp13.527 per dolar AS hingga di teritori negatif.

Sebelumnya, Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta, sempat mengatakan bahwa tekanan pelemahan mata uang rupiah mereda sejalan dengan mata uang di yang bergerak menguat terhadap dolar AS. “Proyeksi terhadap inflasi November yang diperkirakan masih stabil juga bisa menjadi salah satu faktor positif bagi mata uang domestik,” katanya.

Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, menambahkan bahwa dolar AS yang melemah terhadap mayoritas mata uang utama dikarenakan menurunnya yield AS, sehingga memicu adanya aksi ambil untung. “Sebagian melakukan aksi ambil untung menjelang kebijakan The Fed pada pertengahan Desember nanti,” katanya.

Sementara itu, yen memimpin penguatan mata uang di Asia dengan kenaikan tajam 1,37 poin atau 1,21% ke 111,85 per dolar AS hingga pukul 12.47 WIB setelah dibuka di posisi 112,82 per dolar AS. Yen menguat terhadap the greenback bersamaan dengan mata uang euro dan mata uang emerging market lainnya.

“Dengan reli dolar AS yang berhenti sejenak, kita akan melihat posisi panjang dolar AS yang terhapus,” ujar Kepala Riset Regional Australia & New Zealand Banking Group Ltd., Khoon Goh. “Setelah yen mengalami pelemahan terbesar di antara mata uang negara G-10 sejak Pemilihan Presiden AS, wajar jika mata uang tersebut rebound cukup besar.”

Loading...