Gagal Bertahan, Rupiah Ditutup Melemah Tipis

Rupiah - www.covesia.comRupiah - www.covesia.com

Rupiah gagal mempertahankan posisi di zona hijau pada Rabu (24/10) sore ketika indeks dolar AS relatif bergerak turun seiring kinerja Wall Street yang kembali memburuk. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 15.56 WIB, Garuda ditutup melemah tipis 5 poin atau 0,04% ke level Rp15.197 per dolar AS.

Sementara itu, Bank siang tadi menetapkan berada di posisi Rp15.193 per dolar AS, mengalami apresiasi sebesar 15 poin atau 0,1% dari perdagangan sebelumnya di level Rp15.208 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang mengungguli , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,51% menghampiri won Korea Selatan.

Dari pasar , indeks dolar AS sebenarnya kembali bergerak melemah terhadap sekeranjang mata uang utama pada perdagangan hari Rabu, meski sebelumnya sempat memangkas pelemahan karena aksi jual saham AS mereda. Mata uang Paman Sam terpantau turun tipis 0,009 poin atau 0,01% ke level 95,952 pada pukul 11.02 WIB, setelah sebelumnya sudah berakhir drop.

Seperti diberitakan Reuters, saham Dow Jones Industrial Average, S&P 500, dan Nasdaq Composite turun secara dramatis di bursa, terseret oleh pendapatan mengecewakan dari bellwethers industri Caterpillar Inc dan 3M Co. Tiga indeks telah memang memulihkan sebagian dari kerugian tersebut pada pertengahan Selasa (23/10) sore, tetapi tetap lebih rendah dari penutupan pada hari Senin (22/10).

Meskipun dolar AS juga dianggap sebagai mata uang safe haven, selain yen Jepang, namun pelemahan di bursa Wall Street akan merugikan kurs greenback terhadap aset safe haven lainnya. Dolar AS melemah terhadap yen sebesar 0,32%, perdagangan terakhir pada posisi 112,45 yen. Sementara, terhadap franc Swiss, dolar turun 8 basis poin dan terakhir diperdagangkan di level 0,995 franc.

“Perkembangan dalam kebijakan AS, terutama pemotongan pajak oleh Presiden Donald Trump, telah meningkatkan investasi dalam aset AS, dan telah berkontribusi terhadap kinerja dolar AS tahun ini, tetapi narasi itu tampaknya telah berakhir,” kata ahli strategi FX senior di TD Securities, Mazen Issa. “Jelang pemilihan kongres, para sedikit gugup dan mencari tahu apakah akan ada kebijakan yang akan terus mendukung tingginya aset AS.”

Loading...