Fokus Beralih ke Rapat Fed, Rupiah Drop di Akhir Pekan

Rupiah - inal knRupiah - inal kn

JAKARTA – Rupiah praktis tidak memiliki tenaga untuk bergerak ke zona hijau pada Jumat (14/12) sore, ketika indeks AS menguat seiring fokus yang mulai beralih ke rapat pada minggu depan. Menurut paparan Index pada pukul 15.47 WIB, Garuda melemah 84 poin atau 0,58% ke level Rp14.581 per dolar AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan tengah berada di posisi Rp14.538 per dolar AS, terdepresiasi tipis 2 poin atau 0,01% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.536 per dolar AS. jual ditetapkan di posisi Rp14.611 per dolar AS, sedangkan beli berada di level Rp14.465 per dolar AS, atau selisih Rp146.

Dari global, indeks dolar AS masih bergerak lebih tinggi terhadap sekeranjang mata uang utama pada hari Jumat, karena fokus investor bergeser ke kenaikan The Fed yang diperkirakan minggu depan, meskipun cenderung dibatasi pada ketidakpastian tentang prospek kebijakan tahun depan. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,047 poin atau 0,05% ke level 97,111 pada pukul 07.52 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, menemukan dukungan luas karena euro dan pound sterling berada di bawah tekanan, menyusul komentar dari Presiden European Central Bank tentang prospek zona Eropa dan kekhawatiran baru mengenai kesepakatan Brexit. Analis mengatakan bahwa katalis berikutnya untuk pergerakan lebih besar di pasar mata uang adalah pertemuan The Fed pada tanggal 18-19 Desember.

“Ada banyak ketidaksepakatan di pasar mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada 2019, dengan prediksi antara satu hingga empat kali kenaikan,” tutur kepala strategi pasar di CMC, Michael McCarthy. “Investor akan mengawasi setiap revisi dalam pertumbuhan dan prospek inflasi The Fed. Jika ada gambaran yang kuat untuk AS, greenback akan unggul terhadap yen dan euro.”

Dolar AS sendiri bisa dibilang telah menjadi ‘pemenang terbesar 2018’, setelah memperoleh kenaikan 5,3% terhadap sekeranjang mata uang utama sepanjang tahun ini. Namun, dalam beberapa pekan terakhir, penurunan yang dialami imbal hasil Treasury AS, data inflasi yang melambat, serta komentar dovish The Fed membuat pasar berspekulasi ini adalah puncak kenaikan bagi greenback.

Loading...