Fokus Agama, Kampanye Politisi Indonesia Lupakan Perlindungan Bencana

Presiden Jokowi Tinjau Lokasi Terdampak Tsunami di Banten - www.tribunnews.comPresiden Jokowi Tinjau Lokasi Terdampak Tsunami di Banten - www.tribunnews.com

JAKARTA – Setelah tsunami dahsyat di Aceh pada Desember 2004, bencana alam seolah bergantian menyerang berbagai wilayah . Jelang akhir tahun 2018 kemarin misalnya, Selat Sunda ‘mengamuk’ dan menghantam Provinsi Banten dan Lampung. Sayangnya, menjelang presiden April mendatang, fokus kampanye para calon hanya terfokus pada , bukan kebutuhan warga, termasuk penanggulangan bencana alam.

Seperti dilansir Nikkei, berada di sepanjang Cincin Api Pasifik, Indonesia menanggung beban paling besar dari bencana seismik yang sering terjadi. Korban pada tahun 2018 sangat berat, dengan sekitar 4.000 kematian atau lebih disebabkan gempa bumi berturut-turut yang terjadi di Lombok, tsunami di Palu (Sulawesi Tengah), yang diikuti oleh tsunami di pantai barat Pulau Jawa.

Mungkin, banyak yang berpikir tragedi ini akan memacu pemerintah untuk berbuat lebih banyak untuk melindungi warganya, terutama karena sistem peringatan tsunami yang dipasang lebih dari satu dekade yang lalu telah gagal. Sayangnya, tidak ada tanda-tanda tindakan semacam itu dalam kampanye, baik dari calon petahana Joko Widodo maupun penantangnya, Prabowo Subianto, yang tidak menjanjikan perlindungan yang lebih baik dari bencana alam.

“Ini bahkan lebih mengejutkan karena Jokowi, yang saat ini masih menjabat sebagai presiden, telah membangun kepresidenannya dalam pengembangan infrastruktur,” kata Michael Vatikiotis, direktur Centre for Humanitarian Dialogue. “Dia tampaknya lebih sibuk dengan penyelesaian jalan raya di Jawa dan sistem metro di Kota Jakarta daripada memperbaiki jaringan pelampung dan pengukur pasang surut yang dipasang setelah bencana tahun 2004.”

Menurut para kritikus, badan bencana nasional yang bertanggung jawab untuk memasang dan memelihara sistem ini sangat kekurangan dana. Dari 1.000 sirene peringatan yang dibutuhkan, hanya tersedia kurang dari 60 unit. Satu perkiraan untuk mengganti seluruh sistem peringatan mendekati anggaran keseluruhan , sebesar 500 juta AS.

Selain perlindungan bencana alam yang sangat tidak memadai, orang Indonesia harus membayar lebih untuk beras, daging sapi segar, dan bahan pokok lainnya karena harga yang lebih mahal daripada kawasan lain di Asia Tenggara. Bank Dunia mengatakan bahwa anak-anak di banyak daerah perkotaan di Tanah Air kekurangan gizi. Sementara, dan pendidikan dasar masih kurang didanai.

Ironisnya, tak satu pun dari kebutuhan dasar ini yang menjadi pusat kampanye para politisi. Sebaliknya, mereka terpaku pada agama. Sementara kampanye Jokowi menyebutkan prioritas seperti pembangunan manusia dan kesetaraan, sebuah penekanan diletakkan pada pendidikan agama sebagai penyedia ‘karakter nasional’, promosi wirausahawan agama, dan kemudahan pajak ‘zakat’ untuk mengatasi ketidaksetaraan.

Di negara dengan mayoritas Muslim, salah satu cara paling pasti untuk mendapatkan dukungan sekaligus melemahkan lawan memang dengan bermain dalam masalah agama. Untuk menangkis serangan dari kaum konservatif Islam yang semakin gencar, Jokowi memilih KH Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden. Akibatnya, banyak wacana kampanye telah membahas berbagai topik seperti kebutuhan para pemimpin untuk memiliki pengetahuan yang baik tentang Al Quran.

Kegagalan untuk mempertimbangkan kebutuhan warga negara, khususnya mereka yang menderita atau merasa kehilangan, berbahaya karena dapat membantu membiakkan ekstremisme. Gerakan Islam konservatif membangun basis dukungan yang kuat di belakang ketidakpuasan sosial dan ekonomi. Sementara, ketika masyarakat Palu membangun kembali kehidupan mereka, seorang analis Indonesia mengatakan bahwa kelompok yang dikenal sebagai Mujahiddin Indonesia Timur telah memperluas keanggotaannya di daerah tersebut.

Loading...