Kamis Sore, Rupiah Terpuruk Usai Fed Tepis Suku Bunga Negatif

Mata Uang Rupiah - berita.baca.co.idMata Uang Rupiah - berita.baca.co.id

JAKARTA – tidak sanggup mengangkat posisi ke area hijau pada Kamis (14/5) sore setelah menepis kemungkinan penerapan negatif walau AS terlihat suram. Menurut catatan Index pada pukul 14.58 WIB, mata uang Garuda harus berakhir melemah 20 poin atau 0,13% ke level Rp14.885 per AS.

Sementara itu, data pukul 10.05 WIB tadi menunjukkan referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.946, terdepresiasi 59 poin atau 0,4% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.887 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang juga terbenam, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,44% menghampiri rupiah.

Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, dilansir Bisnis, sebelumnya sudah menuturkan bahwa pada perdagangan kali ini, pasar mungkin tengah mengantisipasi pidato Ketua The Fed, Jerome Powell, mengenai outlook ekonomi AS di tengah pandemi COVID-19 yang mendorong dolar AS bergerak dalam tekanan. Pasalnya, kemungkinan pernyataannya masih dovish atau pesimis yang mendukung kebijakan stimulus The Fed nantinya.

Dari pasar global, indeks dolar AS terpantau bergerak lebih tinggi terhadap sejumlah mata uang utama pada hari Kamis, setelah Jerome Powell, meski pesimis, tetapi menepis spekulasi bahwa pembuat kebijakan akan mengadopsi suku bunga negatif. Mata uang Paman Sam menguat tipis 0,094 poin atau 0,09% ke level 100,336 pada pukul 13.11 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, setelah pidato Powell, fokus pasar kini bergeser ke data ekonomi dari AS dan Eropa dalam dua hari ke depan untuk petunjuk lebih lanjut tentang kedalaman penurunan di sana. Selain itu, investor akan mengamati dengan cermat pengukur aktivitas China untuk tanda-tanda tentang berapa lama waktu yang diperlukan untuk bangkit dari keterpurukan yang disebabkan wabah coronavirus.

“Dolar AS berhasil bangkit kembali setelah komentar Powell tentang suku bunga negatif, tetapi sekarang bias greenback cukup netral,” ujar manajer umum departemen penelitian di Gaitame.com Research Institute di Tokyo, Takuya Kanda. “Mungkin ada beberapa arus aman ke dolar AS, tetapi semua orang menghadapi masalah ekonomi yang sama yang disebabkan oleh coronavirus.”

Loading...