Fed Rate Naik, Rupiah Melempem di Awal Perdagangan

smeaker.com

Jakarta – Rupiah dibuka 12 poin atau 0,09 persen ke Rp 13.289 per AS dalam perdagangan pagi hari ini, Kamis (15/6). Sebelumnya, Garuda berakhir terapresiasi 14 poin atau 0,11 persen ke posisi Rp 13.277 per AS usai bergerak di rentang angka Rp 13.272 hingga Rp 13.293 per AS.

Sementara itu indeks dolar AS terpantau melemah pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB sebesar 0,08 persen menjadi 96,901. Indeks dolar AS anjlok setelah memutuskan untuk menaikkan acuan untuk keempat kalinya sejak Desember 2015 lalu.

“Mengingat kondisi-kondisi realisasi dan ekspektasi serta , Komite (Pasar Terbuka Federal) memutuskan untuk menaikkan target kisaran untuk suku bunga acuan atau federal fund dari 1,00 persen menjadi 1,25 persen,” demikian bunyi pernyataan The Fed.

Sayangnya yang lemah masih membatasi penguatan indeks dolar AS. Data AS yang dilaporkan rupanya lebih rendah dibandingkan perkiraan. Pada Rabu (14/6) Departemen Tenaga Kerja AS mengungkapkan bahwa Indeks Konsumen (IHK) untuk seluruh konsumen perkotaan turun 0,1 persen pada Mei secara musiman. Selama 12 bulan terakhir, indeks seluruh barang naik 1,9 persen.

Indeks untuk seluruh barang dikurangi makanan dan energi naik 0,1 persen pada Mei dan naik 1,7 persen selama 12 bulan terakhir. Di sisi lain, Departemen Perdagangan juga mengumumkan perkiraan awal penjualan ritel dan jasa makanan AS untuk Mei turun 0,3 persen dibanding bulan sebelumnya menjadi USD 473,8 miliar.

Dari dalam negeri, para ekonom mengharapkan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) selama 2 hari belakangan tak perlu mengeluarkan reaksi yang terlalu berlebihan seperti mengubah kebijakan moneter untuk merespons kenaikan Fed Rate. Pasalnya kenaikan Fed Rate pekan ini hanya 0,25%. “Pemerintah tidak harus antisipasi berlebihan kenaikan Fed Rate 25 bps tambahan. Cadangan devisa saat ini sudah lebih dari cukup untuk jaga stabilitas rupiah,” ujar Rangga Cipta, Ekonom Samuel Sekuritas, seperti dikutip Kontan.

Menurut Rangga, efek kenaikan Fed Rate kali ini tak terlalu berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia, terutama berkaitan dengan capital outflow dan kurs. Bahkan ia memprediksi jika aliran dana asing akan semakin deras ke Indonesia, apalagi setelah Standard & Poor’s belum lama ini memberi predikat investment grade.

Loading...