Fed Rate Kemungkinan Naik, Rupiah Tak Berdaya di Awal Dagang

Jakarta – Garuda kembali terdepresiasi di awal dagang. Pagi hari ini, Jumat (18/11) rupiah dibuka 20 poin atau 0,15 persen ke posisi Rp 13.393 per AS. Sebelumnya, rupiah ditutup 28 poin atau 0,21 persen ke Rp 13.373 per dolar AS usai diperdagangkan pada rentang Rp 13.331 hingga Rp 13.436 per dolar AS.

Meski menetapkan kebijakan BI RR Rate tetap di angka 4,75%, Gubernur Janet memberikan sinyal akan kenaikan The Fed pada Desember 2016 depan. Samuel Sekuritas Indonesia memperkirakan bahwa pada Jumat (18/11) rupiah masih berpeluang untuk melanjutkan tren pelemahannya.

Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta mengungkapkan jika gerak rupiah hari ini akan terpengaruh oleh faktor global dan juga domestik. Dari sentimen global, inflasi AS Oktober 2015 yang dilaporkan tadi malam ternyata mengalami kenaikan, bersamaan dengan pidato Yellen di depan Kongres AS yang cenderung hawkish. Yellen juga mengatakan jika Fed Fund Rate target kemungkinan naik.

The Fed sendiri tak memberikan tanggapan yang terlalu mencolok terkait kemenangan Donald Trump sebagai presiden AS. Indeks dolar AS dan imbal hasil US Treasury sama-sama sampai dini hari tadi dan kemungkinan akan menekan Asia hari ini.

“BI yang menahan BI RR rate di 4,75% semakin waspada terhadap ketidakpastian global walaupun memberikan komitmen kehadiran di pasar valas untuk jaga stabilitas rupiah,” kata Rangga Cipta. Sementara itu perhatian pasar akan kembali terpusat pada kondisi politik dalam negeri dan berpotensi menambah ketidakpastian dalam jangka pendek.

Loading...