Fed Pertahankan Proyeksi Suku Bunga, Rupiah Berakhir Drop

Rupiah - ekonomi.metrotvnews.comRupiah - ekonomi.metrotvnews.com

JAKARTA – praktis tidak memiliki tenaga untuk bergerak ke zona hijau pada Kamis (20/12) sore setelah mempertahankan sebagian arah kenaikan mereka pada tahun 2019. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 15.47 WIB, mata uang Garuda terpantau melemah 34 poin atau 0,23% menuju level Rp14.473 per .

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.499 per dolar AS, anjlok 119 poin atau 0,83% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.380 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang juga tidak berkutik versus , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,59% menghampiri won Korea Selatan.

Dari , indeks dolar AS relatif bergerak stabil pada perdagangan Kamis, setelah Federal Reserve mempertahankan sebagian arah kenaikan suku bunga lebih lanjut pada tahun depan. Mata uang Paman Sam terpantau hanya melemah tipis 0,055 poin atau 0,06% ke level 96,980 pada pukul 11.18 WIB, setelah kemarin berakhir turun 0,069 poin.

Seperti diberitakan Reuters, meski terdepresiasi, namun pergerakan greenback relatif stabil, ketika The Fed mempertahankan sebagian arah kenaikan suku bunga pada tahun 2019 mendatang, sehingga memupus harapan untuk prospek kebijakan yang lebih dovish. Kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 2,25%-2.50% pada pertemuan tengah pekan ini sudah diprediksi, tetapi pasar terkejut oleh komitmen bank sentral AS untuk mempertahankan inti dari rencananya dalam pengetatan kebijakan moneter.

Proyeksi terbaru untuk kenaikan suku bunga yang diumumkan pada hari yang sama menunjukkan para pembuat kebijakan memperkirakan dua kali kenaikan pada tahun 2019 mendatang dan satu kali kenaikan pada tahun 2020. Ini sedikit berbeda dengan proyeksi sebelumnya pada bulan September kemarin, yang mengindikasikan ada tiga kali kenaikan di tahun depan.

“Investor telah bersiap untuk yang terburuk, dari tidak ada kenaikan suku bunga hingga perbedaan pendapat dan perubahan dalam penilaian risiko,” papar managing director strategi valuta asing di BK Asset Management, Kathy Lien. “Dan, sementara ada sedikit perubahan dalam pernyataan dan penurunan perkirakan dan inflasi, perubahan ini tidak seperti yang diharapkan pasar.”

Loading...