Fed Khawatirkan Perang Dagang, Rupiah Tetap Lesu di Kamis Sore

Rupiah - viva.co.idRupiah - viva.co.id

Meski indeks perlahan bergerak turun imbas kekhawatiran mengenai dampak perang dagang AS-China, namun gagal memanfaatkan momentum tersebut untuk berbalik menguat pada Kamis (19/7) sore. Menurut paparan Index pukul 15.04 WIB, mata uang Garuda terpantau 28 poin atau 0,19% ke level Rp14.442 per AS.

Sebelumnya, rupiah sudah berakhir terdepresiasi 36 poin atau 0,25% di posisi Rp14.414 per dolar AS pada tutup dagang Rabu (18/7) kemarin. Pagi tadi, tren negatif mata uang NKRI berlanjut dengan dibuka turun tipis 1 poin atau 0,01% ke level Rp14.415 per dolar AS. Sepanjang hari ini, spot praktis tidak memiliki tenaga untuk bangkit ke zona hijau.

Sementara itu, dari pasar global, indeks dolar AS tetap bertahan terhadap rekan-rekan utama pada hari Kamis, meski Gubernur Federal Reserve, Jerome Powell, mulai mengkhawatirkan dampak perang dagang antara negaranya dengan China. Mata uang Paman Sam hanya melemah tipis 0,075 poin atau 0,08% ke level 95,01 pada pukul 11.13 WIB.

Dilansir Reuters, dalam dua testimoni pada hari Selasa (17/7) dan hari Rabu waktu setempat, Jerome Powell mengatakan dia yakin bahwa AS masih berada di jalur yang tepat untuk pertumbuhan yang stabil. Meski demikian, dirinya mengakui bahwa pejabat bank sentral mulai khawatir terhadap dampak kebijakan perdagangan Presiden AS, .

“Semakin banyak perusahaan yang merugi karena tensi dagang ini. Kami sendiri belum menghitung angka agregat karena perekonomian AS bernilai 20 triliun dolar AS, sehingga membutuhkan waktu untuk menghitung dampaknya,” katanya. “Bank sentral telah mendengar keluhan bahwa perusahaan mulai khawatir dan ragu-ragu dalam mengambil keputusan untuk investasi.”

Testimoni Powell yang berhati-hati tersebut dinilai tidak memberikan kritik atau menyinggung kebijakan pemerintah AS. Pasalnya, itu hanya teori dan memang sudah tugas untuk fokus terhadap kebijakan moneter dan mengabaikan arah kebijakan presiden. “Garis yang berusaha dilalui Powell masih tampak kabur dan penuh ketidakpastian,” ujar chief investment officer di Potomac River Capital, Mark Spindel.

Loading...