The Fed Tetap Dovish, Rupiah Berakhir Menguat

Rupiah - market.bisnis.comRupiah - market.bisnis.com

JAKARTA – praktis tidak memiliki hambatan berarti untuk terus bergerak di zona hijau sepanjang perdagangan Kamis (29/4) ketika Federal Reserve mempertahankan sikap dovish mereka, membuat kurs greenback melorot. Menurut laporan Index pada pukul 14.52 WIB, Garuda berakhir menguat 50 poin atau 0,34% ke level Rp14.450 per AS.

“Rupiah menguat karena The Fed tidak mengubah outlook dovish pada inflasi dan pembelian aset masih akan berlanjut beberapa waktu mendatang,” papar macro-strategist DBS di Singapura, Chang Wei Liang, seperti dikutip dari Kontan. “Namun, penguatan rupiah bisa tertahan menjelang rilis angka AS yang berpeluang mengangkat US Treasury.”

Hampir senada, menurut analis HFX Berjangka, Adhy Pangestu, The Fed memang mengakui bahwa kemajuan vaksinasi dan dukungan kebijakan telah menunjukkan tanda-tanda kekuatan ekonomi dan meningkatnya inflasi. Namun, pembuat kebijakan menegaskan bahwa krisis kesehatan masyarakat yang sedang berlangsung terus membebani ekonomi dan risiko terhadap prospek ekonomi tetap ada.

Opini yang sama diutarakan analis Monex Investindo Futures, Faisyal, yang mengatakan bahwa rupiah berpeluang menguat dalam jangka pendek seiring outlook melemahnya dolar AS akibat keputusan The Fed mempertahankan suku bunga acuan di dekat level 0%. AS tersebut juga menegaskan bahwa suku bunga level rendah akan dipertahankan setidaknya hingga tahun 2023.

Dari , dolar AS mengambil posisi defensif di dekat posisi terendah sembilan minggu pada hari Kamis karena prospek dovish yang jelas dari Federal Reserve memberi lampu hijau untuk perdagangan reflasi . Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,077 poin atau 0,09% ke level 90,532 pada pukul 12.10 WIB.

“Risikonya adalah The Fed sangat berhati-hati dan menunda mengambil langkah pertama untuk menormalkan kebijakan,” kata kepala ekonomi internasional di CBA, Joseph Capurso, dilansir dari Reuters. “Suku bunga rendah di tengah membaiknya ekonomi AS dan global adalah resep bagi greenback untuk terus menurun.”

Bahkan kinerja ekonomi AS yang lebih baik, sambung Capurso, memiliki dampak pada dolar AS karena menyedot impor dan mendorong defisit perdagangan ke rekor tertinggi pada bulan Maret. Lonjakan itu menurutnya menyiratkan defisit akun saat AS saat ini, sekitar 4% dari PDB di kuartal pertama, sekaligus menjadi beban signifikan untuk dolar AS dalam jangka menengah.

Loading...