The Fed Dovish, Rupiah Berakhir Menguat Tipis

Rupiah - www.merdeka.comRupiah - www.merdeka.com

JAKARTA – Setelah bergerak dalam kisaran yang sempit, mampu menutup Kamis (29/7) di area hijau ketika harus terkapar lantaran tertekan pernyataan dovish Federal Reserve. Menurut Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda berakhir menguat tipis 5 poin atau 0,03% ke level Rp14.482,5 per dolar AS.

Sementara itu, mayoritas mata uang di Benua Asia juga sukses mengungguli greenback. Yen Jepang menjadi yang terbaik setelah menguat 0,17%, disusul ringgit Malaysia yang naik 0,15%, dan dolar Taiwan yang terapresiasi 0,13%. Meski demikian, ada sejumlah kurs yang harus turun, seperti won Korea Selatan yang anjlok 0,33% dan baht Thailand yang melemah 0,19%.

“Rupiah berpotensi kembali menguat terhadap dolar AS pada hari ini karena mata uang AS melemah setelah The Fed menyatakan masih akan melonggarkan kebijakan moneter mereka dan mempertahankan suku bunga acuan,” ujar pengamat pasar uang, Ariston Tjendra, pagi tadi seperti dilansir dari CNN Indonesia. “Pernyataan bank sentral AS memberikan arahan jelas bagi para investor bahwa tingkat suku bunga tidak akan dinaikkan dalam waktu dekat meskipun AS saat ini sudah membaik.”

Dari pasar global, dolar AS memang melayang di sekitar level terendah dua minggu pada hari Kamis, terbebani oleh pernyataan terbaru dari Gubernur Federal Reserve, Jerome Powell, bahwa kenaikan suku bunga tidak ada dalam radar, sedangkan pound sterling telah naik lebih tinggi dengan optimisme pembukaan kembali. Mata uang Paman Sam terpantau terdepresiasi 0,165 poin atau 0,18% ke level 92,157 pada pukul 11.36 WIB.

“Reaksinya terhadap penekan Powell, yang dipandang dovish,” papar kepala strategi FX National Australia Bank, Ray Attrill, dikutip dari Reuters. “Peningkatan sentimen risiko harus dikaitkan dengan dolar AS yang lebih lemah, ditambah rebound pada nama-nama yang terdaftar di AS dan kenaikan baru-baru ini dalam pembukaan kembali perusahaan-perusahaan yang terpapar.”

Penggerak lainnya minggu ini adalah pound sterling, karena para pedagang telah didorong oleh tanda-tanda awal bahwa Inggris mengakhiri sebagian pembatasan -19. Angka infeksi Inggris memang berdetak lebih tinggi pada hari Rabu (28/7), tetapi rata-rata bergulir menuju lebih rendah, meskipun para ahli, dan Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, telah memperingatkan bahwa terlalu dini untuk menarik kesimpulan.

Loading...