Faktor Infrastruktur & Kebijakan Hambat Peredaran Mobil Listrik di Indonesia

Mobil Listrik - www.tribunnews.comMobil Listrik - www.tribunnews.com

JAKARTA – Pameran tahunan GIIAS 2019 resmi dibuka pada pertengahan Juli ini. Banyak produsen Asia yang ramai-ramai memamerkan mereka, berharap konsumen dalam negeri membeli mobil yang lebih ramah lingkungan. Sayangnya, kurangnya dan kebijakan yang tidak jelas menghambat penyebaran electric vehicle atau EV.

Dilansir Nikkei, afiliasi Toyota Motor, Daihatsu, memamerkan konsep listrik mereka, Hy-Fun, untuk pertama kalinya. Sementara, Mitsubishi Motors memperkenalkan Outlander plug-in hybrid (PHEV), yang akan menjadi kendaraan listrik pertama yang dijual di Indonesia, sedangkan Nissan Motor mengumumkan rencana untuk menjual Leaf bertenaga listrik di Indonesia tahun depan.

Toyota, yang sudah menjual kendaraan plug-in hybrids di Indonesia, berjanji sebelum pameran untuk menginvestasikan 2 miliar dolar AS selama lima tahun ke depan, termasuk kendaraan listrik. Di sisi lain, pabrikan mobil China seperti BYD juga dalam posisi untuk pindah, tetapi semua pemain menunggu tindakan dari pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Meskipun prospek permintaan kendaraan listrik cukup tinggi, dengan studi Nissan menunjukkan 41% responden ingin membeli kendaraan ini, namun permintaan aktual masih sedikit. Pasalnya, diklasifikasikan sebagai barang mewah, kendaraan listrik dikenakan yang dapat naik lebih dari 100%. Harga menjadi lebih tinggi lagi karena impor, sehingga memiliki kendaraan listrik buatan asing menjadi mimpi yang jauh bagi banyak konsumen.

Infrastruktur yang tidak memadai, terutama kurangnya stasiun pengisian bakar, juga menjadi penghambat. Menurut Presiden Mitsubishi Motors, Osamu Masuko, alasan mengapa mereka membawa plug-in hybrids ke Indonesia, alih-alih full listrik, adalah karena kurangnya infrastruktur. “Anda dapat mengisi daya plug-in hybrids di rumah. Ini bisa mengatasi kurangnya infrastruktur,” katanya sebelum pameran GIIAS dimulai.

Pemerintah Indonesia sendiri diharapkan segera mengumumkan sejumlah langkah untuk meningkatkan investasi dan permintaan kendaraan rendah emisi. Tujuannya adalah untuk meningkatkan proporsi mobil listrik, termasuk model yang sepenuhnya listrik, hingga 20% dari total penjualan pada tahun 2025 mendatang.

Perubahan aturan pajak barang mewah harus disiapkan. Tarif pajak yang sekarang berdasarkan kapasitas mesin akan diturunkan sesuai dengan emisi karbondioksida kendaraan. Langkah-langkah lain mungkin termasuk insentif pajak bagi produsen yang berinvestasi dalam kendaraan listrik di dalam negeri, sedangkan ‘pajak yang dapat dikurangkan’ yang baru-baru ini diumumkan berlaku untuk penelitian dan pengembangan kendaraan rendah emisi.

Pemerintah juga memiliki rencana berani untuk menjadi pusat ekspor kendaraan listrik ke para tetangga di ASEAN, bergerak untuk menandatangani perjanjian perdagangan dengan pasar potensial. Ketika Indonesia menandatangani perjanjian perdagangan bebas dengan Australia pada bulan Maret kemarin, salah satu harapannya adalah agar kendaraan listrik buatan lokal bisa masuk ke pasar Australia. Itu dapat membantu Indonesia mengecilkan defisit perdagangan, yang telah lama menjadi penggerus kurs rupiah.

“Indonesia semakin menjadi tujuan yang menarik sebagai basis produksi kendaraan listrik karena menawarkan peluang unik bagi operasi berbasis ekspor untuk berkembang di tengah meningkatnya permintaan EV global,” kata Fitch Solutions. “Negara ini telah menjadi pihak dalam berbagai perjanjian bilateral maupun multilateral yang menawarkan akses ekspor ke negara-negara yang mengalami peningkatan permintaan EV. Memperluas akses tersebut akan menciptakan pasar potensial untuk EV yang diproduksi secara lokal yang ditujukan untuk ekspor.”

Langkah-langkah ini diharapkan sudah ada sebelumnya, tetapi orang dalam industri mengatakan kurangnya koordinasi antara kementerian yang terlibat telah menyebabkan penundaan. Beberapa produsen mobil yang tidak memamerkan kendaraan listrik mengeluh bahwa mereka tidak dapat membawanya ke Indonesia sebelum pajak dan kebijakan lainnya berlaku, atau setidaknya sampai Jakarta menawarkan gambaran yang lebih jelas.

Sebenarnya, untuk masyarakat Indonesia, terutama mereka yang tinggal di ibukota Jakarta, kendaraan listrik menawarkan prospek bantuan dari polusi udara yang kronis. Kota ini adalah salah satu yang paling tercemar di Asia Tenggara. Penelitian oleh Indeks Kehidupan Kualitas Udara menemukan bahwa rata-rata orang Indonesia dapat kehilangan 1,2 tahun harapan hidup pada tingkat polusi saat ini, sedangkan penduduk Jakarta mungkin kehilangan 2,3 tahun harapan hidup jika tingkat polusi masih tetap.

“Indonesia memiliki banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan agar kendaraan listrik menjadi arus utama, apalagi mencapai target 20% negara,” kata I Made Dana Tangkas, presiden Institut Otomotif Indonesia. “Tidak hanya pada infrastruktur (seperti stasiun pengisian), tetapi juga menggeser paradigma. Butuh waktu lama untuk membangun paradigma ketika EV akan menjadi arus utama.”

Loading...