Faktor Geopolitik, China Dorong Yuan sebagai Mata Uang Global

Mata uang Yuan - www.marketwatch.comMata uang Yuan - www.marketwatch.com

BEIJING – Munculnya China sebagai kekuatan ekonomi dan keuangan yang jauh lebih cepat daripada yang diantisipasi, ternyata berbanding terbalik dari kemajuan mata uangnya, , yang lebih lambat daripada yang diperkirakan. Namun, ada banyak bukti bahwa Negeri Tirai Bambu bersiap untuk mendorong kembali sebagai global, bukan karena tujuan ekonomi, melainkan geopolitik.

“Penulisan ulang sistem keuangan dunia yang diharapkan China setelah krisis keuangan global 2008 tampaknya memuncak pada 2015 dengan kesimpulan Dana Moneter Internasional (IMF) bahwa yuan sebanding dengan , euro, yen, dan pound,” tutur William Bratton, yang pernah menjadi kepala ekuitas Asia-Pasifik di HSBC, dilansir Nikkei. “Namun, sejak itu, meski berbagai langkah telah diterapkan, cuma ada sedikit bukti dari upaya untuk mendorong adopsi global yang lebih luas.”

Hilangnya momentum ini sangat terlihat. Menurut Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunications (SWIFT), sistem pemrosesan pembayaran global, hanya 2,2% dari total pembayaran internasional dan bahkan lebih rendah 1,3% dari pembiayaan dalam mata uang yuan. Yuan juga belum diadopsi secara luas sebagai mata uang cadangan, hanya menyumbang 2,1% dari cadangan global pada akhir tahun 2020, jauh lebih kecil dari 55,2% yang dimiliki AS.

“Namun, ada banyak bukti bahwa China bersiap untuk memulai kembali adopsi yuan yang lebih besar,” sambung Bratton. “Banyak perhatian difokuskan pada potensi internasional dari yuan digital yang direncanakan, atau e-CNY, terutama karena platform tersebut akan memungkinkan penggunaan luar negeri di luar arsitektur keuangan yang didominasi AS.”

Selain itu, China juga telah mengumumkan atau mengusulkan inisiatif substantif lainnya. Ini termasuk proposal untuk memudahkan perusahaan multinasional untuk memperdagangkan valuta asing dan bagi ritel untuk membeli sekuritas luar negeri, serta pembukaan derivatifnya untuk investor asing dan peralihan ke kontrak komoditas berdenominasi yuan.

“Alasan internasionalisasi seringkali dibingkai dalam istilah ekonomi dan finansial semata. Asumsi yang sering muncul adalah bahwa China perlu meningkatkan aliran yuan karena transisi dari surplus neraca berjalan ke posisi yang lebih seimbang atau bahkan defisit yang terus-menerus,” papar Bratton. “Meskipun sejumlah besar modal mengalir masuk dan keluar dari China, mereka melakukannya dalam kerangka kerja yang sangat tersentralisasi dan terkontrol.”

Hal tersebut, lanjut Bratton, mencerminkan ketakutan yang melekat pada volatilitas valuta asing, seperti yang terlihat pada fokus bank sentral untuk mempertahankan mata uang yang stabil. Namun, kontrol ini tidak hanya menghasilkan kepemilikan aset luar negeri yang kembali rendah dan defisit pendapatan investasi bersih, mereka juga menghalangi pengambilan yuan di luar perbatasannya. “Ini merupakan penghalang bagi tujuan geopolitik China, yang secara luas memiliki dua tujuan,” imbuh Bratton.

Pertama, ketegangan China yang meningkat dengan AS telah mendorong kebutuhan mendesak untuk menghilangkan ketergantungannya pada sistem keuangan global dalam denominasi greenback. China sekarang mengakui bahwa jika ingin dilihat sebagai negara yang setara dengan AS, mereka tidak dapat bergantung pada mata uang atau sistem keuangan pesaingnya.

Kedua, Negeri Panda tahu bahwa ia tidak dapat sepenuhnya memanfaatkan ukuran ekonominya untuk mencapai tujuan geopolitik dan kebijakan luar negerinya tanpa adopsi yuan yang lebih luas. Upaya saat ini untuk mempersenjatai status ekonominya tidak memiliki kecanggihan sanksi AS dan seringkali menciptakan konsekuensi negatif yang tidak diinginkan.

“Jika China ingin meniru kemampuan AS dan memperluas pengaruh ekonominya, diperlukan penggunaan yuan yang lebih luas, terutama di seluruh Asia,” kata Bratton. “Apabila mereka juga ingin yuan menjadi mata uang jangkar Asia, maka Beijing perlu meningkatkan kepercayaan yang diperintahkannya, baik dalam hal memfasilitasi arus dan sebagai penyimpan nilai.”

China mungkin akan menghadapi dilema. Ini dapat mendorong adopsi yuan yang lebih luas untuk memajukan pengaruhnya dan tujuan kebijakan luar negerinya, terutama di Asia. Di sisi lain, ini akan membutuhkan lebih sedikit kontrol atas aliran yuan dan volatilitas nilai tukar yang lebih besar. “Namun, pergeseran dari dolar AS ke yuan sebenarnya dapat bermanfaat bagi sebagian besar , mengingat ikatan perdagangan yang signifikan dan tingkat pembangunan ekonomi yang sebanding,” ujar Bratton.

“Pada akhirnya, geopolitik akan menang. China mengakui bahwa tujuan kebijakan luar negerinya akan lebih mudah untuk maju jika yuan diadopsi secara luas di luar perbatasannya,” tambah Bratton. “Namun, rebooting internasionalisasi yuan akan menimbulkan kesulitan besar bagi banyak lembaga keuangan, yang harus menghadapi perbedaan ini. Itu juga akan menjadi tantangan bagi negara-negara yang berusaha menjaga hubungan dengan kedua negara adidaya.”

Loading...