Polemik European Super League, Berawal dari Akuisisi Glazer di MU?

Liga Sepak BolaLiga Sepak Bola

MANCHESTER – Rencana 12 klub elit untuk menggelar sebuah liga bernama European Super League telah memicu kemarahan di seluruh Benua Biru karena dianggap sebagai lambang keserakahan . Namun, bagi sebagian kalangan, hal tersebut tidak mengejutkan, terutama ketika klub Manchester United diambil alih oleh asal AS bernama Malcolm Glazer.

Dilansir dari Deutsche Welle, pada Mei 2005, Glazer dan keluarganya menyelesaikan pengambilalihan Manchester United, saat itu melalui bank JP Morgan. Pengambilalihan tersebut membuat tim berjuluk Setan Merah yang sebelumnya bebas , dibebani dengan kewajiban sebesar 921 juta , yang pembayarannya telah membuat klub kehilangan bunga dan sebesar 1 miliar pound sterling.

Sebagai protes, sebagian pendukung Manchester United memisahkan diri dari klub yang sudah mereka dan mereka ikuti di seluruh Inggris dan Eropa selama beberapa dekade, kemudian membentuk klub mereka sendiri, yakni FC United of Manchester. Mereka telah melihat apa yang terjadi, dan mereka melihat apa yang akan terjadi.

Enam belas tahun kemudian, Ed Woodward, wakil ketua eksekutif Manchester United, menjadi wakil ketua Liga Super yang baru, sebuah usaha yang dipimpin oleh 12 klub sepak bola elit untuk melepaskan diri dari sepak bola Eropa, yang dipimpin UEFA, dan menggelar kompetisi mereka sendiri. Awalnya, mereka dijamin dengan dana sebesar 3,5 miliar euro oleh JP Morgan.

Menurut Matt Ford dari Deutsche Welle, siapa saja yang terkejut bahwa Manchester United yang dikendalikan Glazer, bersama dengan Liverpool dan Arsenal (yang juga dimiliki orang Amerika), akan menjadi biang keladi yang merencanakan liga waralaba gaya AS tanpa degradasi, sekaligus melepaskan diri dari lebih dari satu abad tradisi dalam sepak bola Eropa, belum memperhatikan.

“Selama beberapa dekade sekarang, klub elit di liga top Eropa secara agresif dan sinis mencari pendapatan yang lebih besar,” papar Ford. “Ini dimulai dengan menaikkan . Namun, setelah puluhan ribu penggemar di stadion ternyata tidak sebanding dengan ratusan juta orang yang menonton di di seluruh dunia, dilanjutkan dengan kontrak hak media yang menggiurkan.”

Ford melanjutkan, ketika mereka menginginkan bagian yang lebih besar dari pendapatan tampil di Liga Champions Eropa, mereka mendapatkannya. Ketika mereka menginginkan lebih banyak tempat kualifikasi untuk mengurangi kemungkinan gagal lolos, mereka juga mendapatkannya. Bahkan, ketika mereka menginginkan ‘Swiss Model’ yang direformasi dengan tempat yang diberikan berdasarkan koefisien historis, mereka pun mendapatkannya.

Meski demikian, itu masih belum cukup untuk ‘ular dan pembohong’, dalam kata-kata presiden UEFA, Aleksander Ceferin, yang bertanggung jawab atas klub-klub ini. Ini bukan berarti Ceferin dan UEFA memiliki hak untuk mengklaim landasan moral yang tinggi, karena mereka juga terlibat dalam pembentukan sistem keserakahan yang memuakkan tersebut.

“Pembicaraan uang, dan klub yang memisahkan diri telah merencanakan Liga Super mereka di belakang perhitungan yang cermat,” imbuh Ford. “Mereka tahu betul bahwa ada ratusan juta orang di seluruh dunia yang akan menonton Real Madrid vs Manchester United di TikTok 10 kali setahun. Generasi muda akan selalu ‘mengonsumsi’ permainan dengan sedikit berbeda, dan sepak bola harus selalu berusaha beradaptasi.”

Meski begitu, lanjut Ford, hal tersebut sama sekali tidak dapat diterima karena menginjak-injak orang-orang yang menjadikan klub-klub ini menarik bagi para burung nasar, yakni generasi pendukung yang telah memadati Stretford End di Manchester, The Kop di Liverpool, atau Curva of the San Siro. Ini belum lagi lusinan klub lain yang telah melakukan yang terbaik untuk bersaing secara adil guna mendapatkan kesempatan bermain melawan yang terbaik.

Loading...