Emisi Tahun 2030 Diprediksi Tingkatkan Suhu Global 3 Derajat Celsius

emisi-gas-rumahkaca

Emission Gap Report 2016 memperingatkan bahwa emisi untuk tahun 2030 diproyeksikan akan meningkatkan suhu global sekitar 3 derajat celsius pada abad ini, bahkan jika perjanjian sepenuhnya dilaksanakan.

Peringatan telah diumumkan sehari sebelum perjanjian Paris mulai diberlakukan. Jika -negara tak mengurangi emisi 2030 sebesar 25 persen, maka tak akan ada kesempatan untuk membatasi pemanasan global hingga 2 derajat celsius.

United Nations Environment Programme (UNEP) memperingatkan jika tahun 2030 mendatang emisi diperkirakan mencapai 54-56 gigaton karbondioksida yang setara dengan setahun. Sebagai , 1 gigaton kira-kira setara dengan emisi yang dihasilkan oleh semua transportasi di Uni lebih dari 1 tahun, termasuk penerbangan.

Kepala UNEP, Erik Solheim mengatakan bahwa perjanjian Paris dan Kigali Amendment untuk mengurangi HFC masih tidak cukup baik jika masyarakat ingin mempunyai kesempatan untuk menghindari perubahan iklim yang serius.

Emisi gas rumah kaca global dilaporkan terus meningkat. “Jika kita tidak mulai mengambil tindakan tambahan sekarang, dimulai dengan pertemuan iklim mendatang di Marrakesh, kita akan menyesal atas terjadinya tragedi kemanusiaan,” ujar Solheim.

Tahun 2015 dinyatakan sebagai tahun terpanas dan tren ini terus berlanjut hingga ke tahun 2016. Tahun ini juga telah ditandai dengan berita utama tentang jumlah pengungsi iklim yang terus meningkat. ekstrem seperti kekeringan dan banjir, wabah , serta kemiskinan dan konflik yang dipicu oleh konflik sumber daya alam telah menjadi beberapa alasannya.

Apabila negara-negara di tidak melakukan tindakan untuk mengurangi emosi, maka tujuan jangka panjang yang disepakati di Paris akan mustahil untuk tercapai. Sementara itu sektor seperti pertanian atau transportasi bisa mendorong penurunan yang cukup signifikan dari emisi 2030. “Energi dan efisiensi energi proyek terbarukan di negara-negara berkembang dari 2005-2015 dapat mengurangi emisi hampir setengah gigaton pada 2020,” ujar UNEP.

Loading...