Emerging Market Tertekan, Rupiah Ditutup Melemah

Rupiah - en.tempo.coRupiah - en.tempo.co

JAKARTA – praktis tidak memiliki daya untuk bangkit ke zona hijau pada Selasa (13/4) sore ketika ekonomi AS yang terus membaik menekan aset-aset di emerging market. Menurut Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda ditutup melemah 10 poin atau 0,07% ke level Rp14.605 per dolar AS.

Sebelumnya, FX Senior Dealer Sinarmas, Deddy, telah memprediksi bahwa pelemahan rupiah berpotensi berlanjut pada perdagangan hari ini. Hal tersebut seiring dengan tekanan yang masih akan dihadapi mata uang Garuda, termasuk tekanan outflow dari pasar . “Namun, pelemahan rupiah masih terbatas di kisaran Rp14.600 hingga Rp14.700 per dolar AS,” ujar Deddy, seperti dikutip dari Bisnis.

Hampir senada, analis Goldman Sachs, Zach Pandl, menuturkan bahwa data ekonomi AS yang terus membaik, akan terus mendongkrak imbal hasil obligasi AS, sehingga menekan aset-aset di emerging market. Menurutnya, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membeli aset-aset di Indonesia. “ obligasi Indonesia saat ini belum murah,” kata Zach, dilansir dari Inews.

“Rupiah menjadi salah satu mata uang yang paling rentan di antara mata uang di emerging market,” timpal Head of Fixed Income untuk ex Jepang Pinebridge, Arthur Lau. “Rupiah akan tertekan dalam beberapa bulan ke depan karena sejumlah faktor, salah satunya pembagian dividen musim dan kupon obligasi pada April-Mei.”

Meski terus bergerak lebih rendah, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia, Hariyadi Ramelan, menegaskan bahwa rupiah saat in masih lebih baik dibandingkan peers global. Ini terutama jika dilihat dari indikator fundamental, seperti high carry spread 487 basis points, pertumbuhan ekonomi di kisaran 4,3% hingga 5,3%, yang rendah di bawah 2%, dan kecukupan cadangan devisa hingga 137,1 miliar dolar AS.

Sementara, dari pasar global, dolar AS berusaha bangkit dari level terendah tiga minggu terhadap rival utama pada hari Selasa, ketika imbal hasil Treasury bergerak lebih rendah lantaran investor menunggu data inflasi AS yang sangat diantisipasi. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,131 poin atau 0,14% ke level 92,269 pada pukul 11.25 WIB.

“Dolar AS telah tergelincir dalam beberapa hari terakhir, tetapi akan menemukan stabilitas dengan narasi kinerja makro AS yang ditetapkan untuk mendapatkan angka yang kuat dalam data minggu ini,” kata ahli strategi Westpac menulis dalam catatan klien. “Penerbitan obligasi melonjak pada saat yang sama dengan tekanan inflasi yang ditunjukkan dalam data, yang seharusnya mengangkat .”

Loading...