Emas Anjlok Lagi, Kini di bawah USD 1.100 per Ounce

New York – Di awal pekan ini, Emas kembali anjlok dan gagal mempertahankan di level USD 1.100 per Ounce. Di divisi COMEX New York Mercantile Exchange, emas berjangka dinyatakan pada hari Senin waktu New York (Selasa, 12/1), akibat penguatan laju Dolar AS.

Kontrak emas untuk pengiriman Februari turun hampir 2% atau sekitar USD 1,7 ke level USD 1.096,20 per ounce. Padahal, emas sempat mencapai level tertinggi USD 1.108,30 per Ounce-nya. Di minggu lalu, harga emas sempat mencatatkan keuntungan sebesar 3,6, yakni yang terbaik sejak 21 Agustus lalu.

Dikatakan oleh Peter Grant, Analis USAGOLD, sedang berada di bawah tekanan akibat menguatnya nilai tukar Dolar AS terhadap Euro dan sejumlah mata uang utama lainnya.

“Harga logam mungkin sudah jenuh jual. Meski pun begitu, saya pikir, risiko pertumbuhan ekonomi global dan masih terus berlanjut sehingga mempengaruhi laju harga emas,” lanjutnya, seperti kutipan dari laman Marketwatch (12/1).

Sementara itu, Adrian Ash selaku Kepala Riset BullionVault mengatakan bahwa momen awal tahun biasanya menjadi waktu terbaik harga Emas untuk menguat.

“Lebih dari 10 tahun sejak 2006, Januari menjadi bulan terbaik untuk emas. Rata-rata harga (emas) naik 4,7%,” ungkapnya.

Ash menyadari, harga emas juga sangat bergantung pada harga aset lainnya. Itulah mengapa kali ini emas gagal memperbaiki harganya.

Pada pekan lalu, harga emas mencatatkan penguatan di tengah tekanan Timur Tengah akibat memanasnya hubungan Iran dan . Kondisi ini diperkuat dengan klain Korea Utara atas percobaan nuklirnya yang membuat pelaku lebih memilih emas sebagai pilihan yang aman.

Loading...