El Nino Kemungkinan Bisa Mendorong Komoditas Pertanian di Tahun 2016

Cuaca kering akibat badai El Nino memang telah menurunkan komoditas pertanian sepanjang tahun 2014 hingga lalu. Namun, kondisi tersebut diperkirakan berbalik pada tahun 2016 ini.

Sepanjang tahun 2015 lalu, El Nino menjadi tema kunci dalam komoditas pertanian. Tingkat produksi beberapa bahan kebutuhan pokok seperti beras dan gula . Bahkan menurut laporan FAO, organinasi pangan dan pertanian , sepanjang tahun lalu, produksi beras dunia sebesar 4 juta ton atau 0,5%.

Sementara, produksi gula di Thailand turun sekitar 10,8 juta ton imbas dari kekeringan yang parah. Di sisi lain, curah hujan yang tinggi di Brazil juga merusak tanaman tebu di negara itu. Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) juga mengatakan dalam laporannya di bulan 2015, produksi gula secara global hingga akhir Juni 2016 kemungkinan akan turun sekitar 3 juta ton lebih rendah dibanding tahun lalu.

Kecenderungan yang sama juga terjadi pada produksi kelapa sawit di , negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Dampak curah hujan yang rendah di negara ini kemungkinan masih akan dirasakan hingga satu tahun ke depan.

Meski begitu, kepala ekonom dan kepala riset pasar di Nomura, , Rob Subbaraman, mengatakan meski dampak El Nino sepanjang tahun 2015-2016 menjadi yang terburuk dalam kurun waktu 18 tahun terakhir, namun masih terlalu dini untuk mengukur tingkat kerusakan tanaman. “Tanaman kopi secara global mungkin akan turun 162.000 ton tahun ini, karena cuaca kering di Amerika Tengah dan Tenggara. Tetapi, efek pasar mungkin tidak akan terasa sampai nanti pada tahun 2016 hingga 2017,” ungkapnya.

Selain itu, beberapa tanaman juga tidak akan terlalu terpengaruh dampak El Nino. “Harga gandum pada tahun 2016 mungkin mengalami sedikit risiko akibat cuaca, begitu pula biji-bijian lainnya. Namun, harga jagung akan tetap stabil pada tahun 2016, dan harga gandum bisa naik tipis sebesar 4%.” kata seorang analis di ANZ.

Beberapa analis juga percaya bahwa tekanan harga akan berkurang karena stok makanan yang masih cukup untuk sebagian besar perekonomian di Asia Tenggara. Bahkan menurut USDA, tanaman kedelai di Amerika mungkin juga bisa menggantikan minyak sawit dalam beberapa kasus, mengingat menurunnya produksi kelapa sawit di Indonesia.

“Pada tahun 1997-1998 lalu, efek El Nino terhadap harga pangan relatif sedikit, meski mendatangkan miliaran dalam ekonomi,” jelas Subbaraman. “Tetapi, dengan makanan yang memiliki tiga hingga empat kali lebih tinggi dibanding minyak dalam indeks harga konsumen, kali ini dampak El Nino bisa lebih jelas.”

Loading...