Ekspor China Memburuk, Rupiah Terseret ke Teritori ‘Merah’

Jakarta – Posisi Rupiah kembali terdesak pada perdagangan . Sebagaimana dicatat oleh laman Indeks Dolar , Mata uang Garuda ditutup pada level Rp 13.160/ pada perdagangan Selasa sore (8/3), yakni melemah sejauh 45 poin atau sekitar 0,34% dari di hari sebelumnya.

Laju pelemahan Rupiah sudah terasa sejak awal pembukaan perdagangan. Rupiah mengawali perdagangan dengan terpeleset 45 poin di level Rp13.130/USD. Di penutupan perdagangan sesi pertama siang tadi, Rupiah telah menginjak level Rp 13.120/USD per Dolar AS akibat melemah 35 poin.

Bukan tanpa alasan, merosotnya kali ini terjadi setelah merilis data ekspornya yang menunjukkan hasil kurang memuaskan. Biro Statistik menyebutkan bahwa ekspor turun 25,4% pada perhitungan year on year untuk bulan Februari lalu. Padahal sebelumnya, nilai ekspor China telah merosot 11,2% terhitung pada bulan Januari akibat penurunan beruntun selama 12 bulan terakhir.

Jatuhnya nilai ekspor Tiongkok ini semakin memperkuat sinyal perlambatan ekonomi di China, tepat beberapa hari setelah China menetapkan target pertumbuhan negaranya sebesar 6,5%—7% dalam 5 tahun ke depan.

“Ekspor terhantam lagi pada Februari, menunjukkan perlambatan permintaan . Harapan rebound pasti terkikis setelah data seperti ini,” ujar Frederic Neumann, Managing Director and Co-Head Riset Ekonomi dari HSBC Holdings di Hong Kong kepada Bloomberg.

Tekanan ini semakin diperparah dengan anjloknya harga minyak mentah pasca rilis data ekspor China tersebut. Patokan AS, minyak West Texas Intermediate (WTI) di New York Mercantile Exchange untuk kontrak April 2016 1,21% ke level harga USD 37,44 per barel. Sedangkan pada patokan Eropa, harganya turun 1,25% menjadi USD 40,33 per barel.

Loading...