Ekspektasi Terkait Kebijakan Federal Reserve lemahkan Rupiah

rupiah diketahui terdepresiasi sebesar 40 basis poin merunut pada kurs referensi (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate). menempatkan Rupiah pada posisi Rp 12.982 perDolar Amerika pada sesi pembukaan hari ini (7/4) atau sejauh 0,31% dari posisinya kemarin di level Rp 12.942 perDolar Amerika. “ kembali menguat di pasar global sehingga menahan momentum penguatan Rupiah yang telah terjadi dalam beberapa hari terakhir,” ujar Rangga Cipta selaku Ekonom Samuel Sekuritas.

Rangga juga mengatakan bahwa nilai tukar Rupiah masih akan berfluktuasi mengikuti pergerakan Dolar Amerika di pasar global, namun masih berpotensi menguat. Nilai tukar Dolar kemungkinan memiliki kecenderungan melemah menyusul turunnya PMI (Purchasing Managers Index), indikator ekonomi sektor manufaktur Amerika Serikat yang utamanya dilihat berdasarkan indikator seperti permintaan baru, persediaan, produksi, pengiriman pemasok, dan data pekerja. Selain itu, Rangga juga menambahkan bahwa pelaku pasar uang juga sedang menunggu indeks sentimen ekonomi serta data tambahan lowongan pekerjaan di Amerika Serikat.

Ariston Tjendra, Kepala Riset Monex Investindo Futures, mengatakan bahwa sebagian investor di pasar uang kembali mengakumulasi Dolar Amerika menyusul penilaian bahwa sinyal-sinyal perlambatan di Amerika Serikat hanya fenomena sementara. Ia juga mengatakan bahwa akan tetap melakukan pengetatan kebijakan moneter sehingga para investor memilih untuk kembali mengakumulasi Dolar Amerika dibandingkan lain yang tergolong berisiko. “Perekonomian Amerika Serikat pada kuartal pertama banyak terpengaruh dari cuaca buruk. Pengaruh cuaca yang lebih baik akan memberikan dampak positif pada perekonomian Amerika Serikat dalam beberapa bulan mendatang,” ujarnya.

Loading...