Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga AS Tinggi, Rupiah Terimpit di Pasar Spot

Rupiah - publiksatu.comRupiah - publiksatu.com

Jakarta – Berdasarkan data , kurs pada awal pagi hari ini, Jumat (19/10) dibuka melemah 30,5 poin atau 0,20 persen ke level Rp 15.225 per AS. Sebelumnya, Kamis (18/10), mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 45 poin atau 0,30 persen ke posisi Rp 15.195 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur gerak the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau kembali melaju ke zona hijau. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB (19/10), indeks dolar AS menguat 0,35 persen menjadi 95,9053 lantaran tertolong oleh risalah pertemuan September yang menyatakan bahwa pihak bank sentral mungkin akan menaikkan suku bunga acuannya lagi pada bulan Desember 2018 mendatang.

Pada risalah pertemuan yang dirilis Rabu (17/10) sore, The Fed menyatakan tetap yakin untuk memperketat kebijakan moneter agar menjaga Amerika Serikat tetap stabil. “Para peserta umumnya mengantisipasi bahwa peningkatan bertahap lebih lanjut dalam kisaran target untuk suku bunga federal fund (federal funds rate/FFR) kemungkinan besar akan konsisten dengan ekspansi yang berkelanjutan, kondisi tenaga kerja yang kuat dan inflasi mendekati dua persen dalam jangka menengah,” demikian bunyi risalah The Fed, seperti dilansir Republika.

Berdasarkan alat FedWatch CME Group, ekspektasi pasar terkait kenaikan suku bunga The Fed pada Desember 2018 mencapai 80,4 persen. Sementara itu, pada Kamis (18/10), Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan, pada pekan yang berakhir 13 Oktober, angka pendahuluan untuk klaim awal pengangguran yang disesuaikan secara musiman mencapai 210 ribu, turun 5.000 dari tingkat yang direvisi pekan sebelumnya. Sementara itu, rata-rata pergerakan 4 pekan mencapai 211.750, naik 2.000 dari rata-rata direvisi minggu sebelumnya.

Di sisi lain, rupiah kembali terkoreksi karena tertekan oleh keputusan The Fed. Menurut Analis Pasar Uang Bank Mandiri Reny Eka Putri, para investor kini lebih memilih berinvestasi ke dolar AS dan menganggap dolar AS sebagai safe haven currency. “Jadi permintaan dollar AS cenderung meningkat dan melemahkan mata uang lainnya,” ujarnya seperti dilansir Kontan.

Terlebih karena dari dalam negeri masih minim sentimen yang bisa menopang laju rupiah. Seluruh data ekonomi dalam negeri pun telah diumumkan . Sejauh ini sentimen perang dagang pun masih mempengaruhi pergerakan mata uang Garuda. Pada hari ini gerak rupiah akan dipengaruhi rilis data tingkat pengangguran dan inflasi China. “Jika data tersebut positif, kurs rupiah berpotensi menguat,” ungkap Direktur Garuda Berjangka Ibrahim.

Loading...