Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga AS Meningkat, Rupiah Betah Bertengger di Zona Merah

Jakarta rupiah dibuka 0,06 persen atau 8 poin ke level Rp 13.259 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Jumat (15/9). Kemudian hanya dalam beberapa detik saja mata uang Garuda anjlok 19 poin atau 0,14 persen ke Rp 13.270 per AS. Kemarin, Kamis (14/9) rupiah berakhir terdepresiasi 0,38 persen atau 50 poin ke posisi Rp 13.251 per AS setelah diperdagangkan antara Rp 13.228 hingga Rp 13.255 per AS.

dolar AS sendiri terpantau melemah 0,47 persen menjadi 92,087 terhadap sejumlah mata uang utama di akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB lantaran para pelaku kini tengah mempertimbangkan yang kuat.

Berdasarkan dari Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat, Indeks Produsen yang disesuaikan secara musiman untuk permintaan akhir naik 0,2 persen pada Agustus 2017. Indeks Konsumen untuk Semua Konsumen Perkotaan (CPI-U) menguat 0,4 persen pada Agustus 2017 yang disesuaikan secara musiman.

Selama periode 12 bulan terakhir, harga konsumen naik 1,9 persen. Perubahan 12 bulan dalam indeks untuk semua item dikurangi makanan dan energi tetap di level 1,7 persen untuk bulan keempat berturut-turut. Di sisi lain, ekspektasi pasar terkait kenaikan pada Desember 2017 mendatang kini meningkat jadi 52,9 persen dari 41,3 persen pasca dirilisnya data inflasi.

Di sebuah laporan terpisah, Departemen Tenaga Kerja AS juga melaporkan pada pekan yang berakhir (9/9), angka awal untuk klaim pengangguran baru AS yang disesuaikan secara musiman berada di angka 284 ribu, turun dari tingkat belum direvisi minggu sebelumnya sebesar 298 ribu.

Karena ekspektasi kenaikan suku bunga acuan AS kini cukup tinggi, Head Research And Analyst PT Monex Investindo Futures, Ariston Tjandra memperkirakan jika mata uang utama dunia, terutama euro kemungkinan akan tertekan oleh dolar. “Kita tunggu saja ekspektasinya naik atau tidak, karena ekspektasi saja sudah cukup untuk menggerakkan nilai tukar,” jelas Ariston, seperti dilansir Kontan.

Dari dalam negeri, para investor sedang menanti rilis data neraca perdagangan Indonesia yang diproyeksi surplus. Di samping itu, data cadangan devisa negara juga berpotensi untuk menyumbangkan sentimen positif untuk pergerakan rupiah.

Loading...