Ekspektasi Kenaikan FFR Target Capai 100%, Rupiah Menguat di Penutupan

Ketidakpastian mengenai kenaikan yang sudah menghilang menjadi sentimen positif bagi pergerakan berkembang, termasuk rupiah. Menurut Index pukul 15.58 WIB, mata uang Garuda menutup sesi dagang Selasa (13/12) ini dengan penguatan sebesar 6 poin atau 0,04% ke level Rp13.325 per .

Pergerakan positif rupiah sudah terjadi sejak awal dagang dengan dibuka menguat 26 poin atau 0,20% ke posisi Rp13.305 per dolar AS. Istirahat siang, spot kembali naik 29 poin atau 0,22% ke Rp13.302 per dolar AS. Jelang penutupan atau pukul 15.41 WIB, mata uang Garuda masih bertahan di zona hijau setelah menguat tipis 9 poin atau 0,07% ke level Rp13.322 per dolar AS.

“Pekan ini memang akan berlangsung meeting yang kemungkinan akan menaikkan suku bunga acuan,” jelas Valas Bank Mandiri, Reny Eka Putri. “Namun, sudah berkeyakinan bahwa suku bunga The Fed akan naik menjadi 0,75%, meningkat 25 basis poin dari saat ini yang ada di level 0,5%.”

Selain ketidakpastian suku bunga The Fed sudah menghilang, penguatan rupiah juga terdorong dengan baiknya fundamental dalam negeri serta posisi cadangan devisa akhir November 2016 yang terjaga dengan baik. “Tren penguatan rupiah bisa berlangsung hingga akhir pekan ini dengan area support Rp13.250 per dolar AS dan resistance Rp13.335 per dolar AS,” tambahnya.

Senada, Rully Arya Wisnubroto, yang juga Analis Valas Bank Mandiri, menuturkan bahwa ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pekan ini sudah mencapai 100%. Dengan demikian, naiknya suku bunga AS telah mendapat antisipasi para pelaku pasar dan tidak akan menjadi kejutan. “Justru, di luar ekspektasi jika akhirnya suku bunga The Fed akhirnya tidak naik,” katanya

Sementara itu, pergerakan mayoritas mata uang Asia cenderung bervariasi terhadap dolar AS. Hingga Selasa siang, rupee India mengalami pelemahan terdalam usai turun 0,07%, disusul dolar Singapura yang terdepresiasi 0,06%. Sebaliknya, peso Filipina dan dolar Taiwan malah sama-sama menguat 0,25% versus the .

Loading...