Ekspansi Asia Tenggara, Go-Jek Jajaki Pasar Malaysia dan Myanmar

Go-Jek - www.viva.co.idGo-Jek - www.viva.co.id

TOKYO/JAKARTA – Tidak terpengaruh dengan kemunduran regulasi baru-baru ini, kabarnya akan terus mengejar di , dengan rencana untuk memasuki dua baru pada tahun 2019. Setelah menjadi ‘raja’ di dalam negeri, pemesanan ojek berbasis online ini juga siap merambah pasar Malaysia dan Myanmar.

Seperti diberitakan Nikkei, pada bulan lalu, otoritas berwenang di Filipina telah membantah masuknya Go-Jek karena melanggar aturan yang mengharuskan 60 persen unit setidaknya dimiliki pemegang saham . Namun, Go-Jek segera memperoleh pijakan seminggu setelah penolakannya dengan berinvestasi di startup pembayaran smartphone lokal, Coins.ph. mengharapkan layanan panggilan ojek dan pembayaran mobile untuk memperkuat satu sama lain.

“Kami sekarang menyesuaikan aplikasi kami untuk memastikan bahwa kami mematuhi apa yang dibutuhkan negara. Saya pikir itu tidak benar untuk mengatakan kita diblokir dari memasuki pasar,” ujar Presiden Go-Jek, Andre Soelistyo. “Pada akhir tahun ini, kami berharap dapat beroperasi di enam negara dan menduduki peringkat pertama dalam pangsa pasar di beberapa negara ASEAN, selain Indonesia.”

Go-Jek, salah satu ‘unicorn’ di Indonesia atau perusahaan yang bernilai lebih dari 1 miliar dolar , kini melakukan riset pasar untuk Malaysia, Myanmar, dan Kamboja. Menurut mereka, Malaysia adalah pasar besar, sedangkan Myanmar merupakan pasar yang menarik. “Perusahaan sebelumnya telah meluncurkan layanan pengiriman makanan di Kota Ho Chi Minh, Vietnam dan sedang menjajaki area metropolitan utama lainnya untuk ekspansi,” sambung Andre.

Tetapi, operasi Go-Jek di Vietnam diluncurkan di bawah aplikasi Go-Viet, mitra lokal mereka. Sementara, saingan utama, Grab, yang berbasis di Singapura, telah mampu berekspansi ke delapan negara di bawah satu merek. Di Singapura, Go-Jek mengendalikan 20% hingga 25% dari pasar naik ojek setelah diluncurkan di sana pada bulan Desember, dan sudah memulai beberapa layanan di Thailand.

Perusahaan sendiri telah menerima kucuran dana dari Google serta perusahaan e-commerce kelas berat asal China, Tencent Holdings dan JD.com. Investor baru perusahaan dagang Jepang, Mitsubishi Corp, bulan lalu mengambil bagian dalam putaran pendanaan sebesar 1 miliar dolar AS, yang juga termasuk pemegang saham yang ada. “Kami masih perusahaan dengan pertumbuhan sangat tinggi, yang membutuhkan modal dari waktu ke waktu,” pungkas Andre.

Loading...