Ekonomi Indonesia Melambat, Rupiah Justru Berakhir Naik

Rupiah - inal knRupiah - inal kn

JAKARTA – Setelah bergerak dalam kisaran yang relatif sempit, ternyata mampu bangkit ke teritori hijau pada perdagangan Selasa (5/11) sore, ketika Indonesia dilaporkan melambat. Menurut catatan Index pada pukul 15.57 WIB, Garuda menguat 45 poin atau 0,33% ke level Rp13.969 per AS.

Badan Pusat Statistik (BPS) siang tadi melaporkan bahwa perekonomian Indonesia sepanjang kuartal III tahun 2019 hanya tumbuh sebesar 5,02% secara tahunan (year-on-year). Realisasi tersebut melambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni sebesar 5,17%. Capaian tersebut juga lebih rendah dari kuartal II 2019 yang mencapai 5,05%.

“Pertumbuhan ekonomi secara kuartal tercatat 3,06%. Angka tersebut melambat dibandingkan dengan kuartal III 2018 yang sebesar 3,09%,” papar Kepala BPS, Suhariyanto. “Perlambatan ekonomi dalam negeri dipengaruhi oleh ketidakpastian global. Hal ini juga sejalan dengan perlambatan sejumlah lain, seperti AS, Singapura, dan Korea Selatan.”

Dijelaskan Suhariyanto, ekonomi AS hanya tumbuh sebesar 2% pada kuartal III 2019, melambat jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 3,1%. Sementara itu, perekonomian Singapura cuma tumbuh 0,1% dari sebelumnya yang mencapai 2,6%, sedangkan di Korea Selatan hanya tumbuh 2% dari sebelumnya 2,1%.

“Dari sisi lapangan usaha, sektor lainnya mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 10,72% secara tahunan. Namun, karena porsinya terhadap PDB hanya sekitar 1,95%, kontribusinya tak signifikan mendongkrak pertumbuhan ekonomi,” sambung Suhariyanto. “Porsi sektor masih dominan terhadap PDB dengan nilai sebesar 19,62%.”

Sementara itu, dari pasar global, indeks dolar AS terpantau bergerak lebih tinggi terhadap sekeranjang mata uang utama pada hari Selasa, berkat meningkatnya optimisme bahwa AS dan China berada di ambang mencapai kesepakatan awal untuk mengurangi perang perdagangan. Mata uang Paman Sam menguat 0,028 poin atau 0,03% ke level 97,533 pada pukul 14.17 WIB.

Dilansir Reuters, dalam beberapa hari terakhir, Beijing dan Washington telah memberikan tanda-tanda kemajuan yang menggembirakan dalam pembicaraan perdagangan mereka. Pemerintah AS sedang mempertimbangkan untuk menurunkan beberapa tarif impor untuk -barang China, demikian menurut laporan Financial Times pada hari Senin (4/11).

Loading...