Ekonomi Melaju, Malnutrisi Kronis Ancam Pertumbuhan Anak di Asia

Malnutrisi Kronis Ancam Pertumbuhan Anak di Asia - www.bbc.comMalnutrisi Kronis Ancam Pertumbuhan Anak di Asia -

MUMBAI/MANILA – Kawasan dikatakan sebagai salah satu area yang mengalami paling cepat di dunia. Sayangnya, di balik kemajuan tersebut, terselip ironi, ketika lebih dari 30 persen anak-anak di India, Filipina, hingga dilaporkan mengalami malnutrisi kronis sehingga berpotensi menghambat masa depan mereka kelak.

Dilansir Nikkei, Mokhada, salah satu dusun di bagian India yang paling makmur, telah menjadi saksi kematian ratusan bayi dan anak akibat kekurangan gizi dalam beberapa tahun terakhir. Sementara, Distrik Palghar yang lebih luas, tempat Mokhada berada, mencatat lebih dari tiga ribu kematian dalam lima tahun terakhir.

Selain kematian, malnutrisi kronis dapat menyebabkan stunting, yaitu kondisi ketika seorang anak tidak bisa tumbuh hingga ketinggian yang sesuai usia mereka. Stunting ini juga menghambat perkembangan , terutama pada anak-anak hingga usia 5 tahun, mencegah mereka mencapai potensi penuh. Bagi anak-anak dengan kondisi demikian, masa depan mereka otomatis suram, cenderung memiliki sedikit peluang untuk mendapatkan yang baik.

Di India, usia rata-rata adalah 28,5 tahun, membuat negara seperti Jepang iri. Tetapi, 46,6 juta anak-anak di Negeri Sungai Gangga, atau 38 persen, menderita pertumbuhan terhambat meskipun sudah ada upaya pemerintah untuk mengatasi masalah. Anak-anak India dengan pertumbuhan terhambat mencapai sepertiga dari total dunia, dan hanya negara Pakistan yang memiliki rasio lebih tinggi.

Situasi di Filipina tidak lebih baik, dengan satu dari tiga anak mengalami pertumbuhan terhambat, rasio yang hampir tidak berubah selama dua dekade. Para pakar kesehatan mengatakan bahwa negara itu terjebak dalam lingkaran setan, ketika anak-anak yang kekurangan gizi 20 tahun yang lalu sekarang menjadi ibu bagi anak-anak yang kekurangan gizi saat ini.

“Filipina harus berbuat lebih banyak untuk mengatasi kekurangan gizi yang telah mencapai level kronis,” tutur Gabriel Demombynes, pemimpin Bank Dunia untuk pembangunan manusia di beberapa negara Asia Tenggara. “Sungguh mengejutkan bahwa tidak ada kemajuan di Filipina dalam lebih dari satu dekade. Padahal, mereka akan tumbuh dalam ekonomi digital dan mereka mungkin tidak dapat bersaing.”

Sementara itu, Dr. Mario Capanzana, direktur Lembaga Penelitian Makanan dan Nutrisi Filipina, mengatakan bahwa pemerintah telah membuat beberapa langkah untuk mengatasi kekurangan gizi pada anak-anak, tetapi implementasi di lapangan sangat buruk. Kebijakan pemerintah pusat tidak mengalir atau diterima dengan baik oleh pejabat daerah karena memiliki interpretasi tersendiri.

Jika masalah ini tidak teratasi, biaya ekonomi yang dipertaruhkan tidak kecil. India diprediksi akan kehilangan 46 miliar AS dari PDB mereka pada tahun 2030 mendatang, menurut sebuah studi oleh badan amal Inggris, Save the Children. Filipina, sementara itu, telah kehilangan 220 miliar peso atau 1,5 persen dari PDB per tahun, berdasarkan studi bersama oleh Dana Anak PBB, Departemen Kesehatan Filipina, dan organisasi nonpemerintah lokal.

“Sebenarnya, negara memiliki banyak keuntungan saat berinvestasi untuk solusi masalah ini,” sambung Demombynes. “Investasi dalam sumber daya manusia telah memainkan peran kunci dalam keberhasilan pembangunan yang menonjol dari banyak negara di Asia dan, melihat ke depan ketika kita memasuki era ekonomi digital, hubungan ini menjadi lebih kuat antara pertumbuhan ekonomi dan sumber daya manusia.”

Bank Dunia memperkirakan bahwa setiap dolar AS yang diinvestasikan dalam nutrisi ibu dan anak dapat memberikan pengembalian rata-rata hingga 16 dolar AS. Indonesia, tempat sekitar 31 persen anak-anak mengalami pertumbuhan terhambat, bisa memperoleh 48 dolar AS dalam pengembalian ekonomi. Bank Dunia menjelaskan hal ini karena biaya investasi dalam gizi sama di semua negara, tetapi potensi kehilangan karena pertumbuhan terhambat jauh lebih tinggi di negara-negara berpenghasilan menengah seperti Indonesia.

Sementara itu, pemerintah Indonesia sendiri tidak tinggal diam. Pada tahun 2017 kemarin, diperkenalkan StraNas Stunting, sebuah program yang melibatkan 22 kementerian dan investasi tahunan sekitar 3,9 miliar dolar AS. Dana tersebut digunakan untuk meningkatkan akses ke kesehatan, sanitasi, keamanan pangan, perlindungan sosial, dan pendidikan awal. Strategi Indonesia sejalan dengan tujuan yang disepakati secara untuk mengurangi stunting hingga 40 persen.

Di India, pemerintah setempat tahun lalu meluncurkan Misi Gizi Nasional dengan tujuan mengurangi proporsi anak dengan pertumbuhan terhambat menjadi 25 persen pada tahun 2022. Beberapa komunitas telah membuat kemajuan yang signifikan. Desa-desa di daerah Vikramgad, di barat daya Mokhada, telah mampu menghindari kasus kekurangan gizi akut dalam beberapa tahun terakhir berkat kunjungan rutin oleh unit perawatan kesehatan keliling setiap 15 hari.

Di Filipina, Presiden Rodrigo Duterte menandatangani dua undang-undang pada tahun lalu, satu mewajibkan program pemberian makan nasional untuk anak-anak kurang gizi, sedangkan lainnya memesan layanan kesehatan dan nutrisi untuk bayi dalam 1.000 hari pertama setelah kelahiran. Meski membantu, tetapi pemerintah perlu bertindak cepat untuk memenuhi tujuannya mengurangi tingkat stunting menjadi 21,6 persen pada tahun 2022.

“Survei nutrisi menunjukkan bahwa kurang dari seperlima bayi Filipina hingga usia 11 bulan mengalami pertumbuhan terhambat, tetapi angka ini melonjak begitu mereka berusia satu tahun. Ini menunjukkan ada peluang untuk perubahan haluan yang dramatis, tetapi hanya jika pemerintah melakukan intervensi lebih awal,” kata Capanzana. “Kita hanya perlu memberi mereka makan dengan benar.”

Loading...