Ekonomi Indonesia Kembali Minus, Rupiah Berakhir Melemah

Rupiah - faktualnews.coRupiah - faktualnews.co

JAKARTA – Rupiah tidak punya tenaga untuk naik ke area hijau pada perdagangan Jumat (5/2) sore setelah kuartal IV 2020 dilaporkan kembali tumbuh negatif, sekaligus menegaskan masih dalam kondisi resesi. Menurut catatan Index pada pukul 14.58 WIB, Garuda melemah 15 poin atau 0,11% ke level Rp14.030 per AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan pukul 10.00 WIB menempatkan referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.062 per dolar AS, terkoreksi 26 poin atau 0,18% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.036 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia juga tidak berdaya melawan greenback, termasuk won Korea Selatan, ringgit Malaysia, dan yuan .

Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini melaporkan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal IV 2020 yang tumbuh -2,19% secara tahunan. Angka tersebut membuat ekonomi dalam negeri mengalami pertumbuhan negatif (kontraksi) dalam tiga kuartal berturut-turut. Secara kuartalan, ekonomi domestik tumbuh sebesar -0,42%.

“Pertumbuhan triwulan keempat memang masih mengalami kontraksi, tetapi jika dibandingkan kuartal sebelumnya, pertumbuhan ini menunjukkan perbaikan,” kata Kepala BPS, Suhariyanto. “Ada sejumlah perbaikan meskipun memang belum sesuai harapan, dan oleh karena itu kita perlu melakukan evaluasi apa yang perlu diperkuat.”

Secara umum, struktur produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal IV 2020 tidak berubah. Suhariyanto memaparkan, ada lima sektor yang memberikan kontribusi, yaitu manufaktur, perdagangan, pertanian, konstruksi, dan pertanian.  Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan mengalami kontraksi pertumbuhan terdalam sebesar 13,42%.

Dari global, indeks dolar AS menuju kenaikan mingguan terbaik  dalam tiga bulan, terangkat oleh kepercayaan yang tumbuh bahwa pemulihan ekonomi AS akan melebihi sejumlah negara lainnya di dunia. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,049 poin atau 0,05% ke level 91,578 pada pukul 10.59 WIB, setelah pagi tadi bergerak di posisi 91,529.

“Perekonomian AS sangat kuat dibandingkan dengan negara lain, menyebabkan dolar AS sedikit naik,” kata kepala riset pasar J.P. Morgan di Tokyo, Tohru Sasaki, dilansir dari Reuters. “Pertarungan penguatan greenback saat ini dapat berlanjut selama beberapa minggu, tetapi gambarannya lebih suram setelahnya karena Eropa dan Asia mengejar vaksinasi dan kebijakan moneter ultra-lunak Federal Reserve dapat membatasi kenaikan imbal hasil AS jangka panjang.”

Loading...