Ekonomi Indonesia Minus 0,74%, Rupiah Berakhir Melemah

Rupiah - fajar.co.idRupiah - fajar.co.id

JAKARTA – harus puas tertahan di zona merah pada perdagangan Rabu (5/5) sore ketika Indonesia kuartal pertama 2021 dilaporkan masih mengalami kontraksi. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 14.57 WIB, Garuda ditutup melemah tipis 5 poin atau 0,03% ke level Rp14.435 per AS.

Siang tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang kuartal pertama 2021 minus 0,74% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 2,97%. Secara kuartalan, pertumbuhan (PDB) Indonesia juga masih mengalami kontraksi sebesar -0,96%.

“Dibandingkan posisi kuartal I 2020, perekonomian Indonesia masih kontraksi 0,74%. Namun, dibandingkan triwulan sebelumnya, ini perbaikan yang cukup signifikan,” tutur Kepala BPS, Suhariyanto. “Sejalan dengan itu, kuartal I 2021 tercatat sebesar 1,37%. bergerak lambat karena pandemi Covid-19 membatasi mobilitas orang sehingga menghambat permintaan.”

Dilansir dari CNN Indonesia, kontraksi ekonomi Indonesia berbanding terbalik dengan pertumbuhan ekonomi sejumlah mitra dagang yang tercatat pada kuartal I 2021. Ekonomi China tumbuh 18,3%, ekonomi AS tumbuh tipis 0,4%, Singapura tumbuh 0,2%, Korea Selatan tumbuh 1,8%, Hong Kong melonjak 7,8%, sedangkan Uni Eropa senasib dengan Indonesia, minus 1,7%.

Beberapa menteri juga telah memproyeksi pertumbuhan ekonomi minus pada kuartal I 2021. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, misalnya, memprediksi pertumbuhan ekonomi tiga bulan pertama tahun ini minus 0,3% sampai minus 0,5%. Sementara itu, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa, memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 0,6% sampai minus 0,9%.

Meski begitu, Suhariyanto melihat adanya tanda pemulihan yang semakin nyata. Pasalnya, apabila dibandingkan dengan tahun lalu, pertumbuhan ekonomi konsisten mengalami perbaikan. Dimulai dari kuartal II 2020 yang pada waktu itu ekonomi tertekan hingga minus 5,32%, lalu membaik pada kuartal III 2020 yang minus 3,49%, dan kontraksi kembali mengecil menjadi minus 2,19% pada kuartal IV 2020.

Sementara itu, dari pasar global, dolar AS mencoba untuk memperpanjang reli pada hari Rabu ketika obrolan tentang kemungkinan suku bunga AS yang lebih tinggi dan aksi jual saham teknologi memperburuk sentimen risiko, yang mungkin dapat menguntungkan aset safe haven. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,083 poin atau 0,09% ke level 91,205 pada pukul 11.29 WIB.

Loading...