Berkontraksi Kembali Sejak 20 Tahun, Ekonomi Indonesia Menatap Resesi

Ekonomi Indonesia dilaporkan Mengalami Penurunan - economy.okezone.comEkonomi Indonesia dilaporkan Mengalami Penurunan - economy.okezone.com

JAKARTA – Kemarin (5/8), ekonomi Indonesia dilaporkan mengalami penurunan sebesar 5,32% pada kuartal kedua tahun 2020, sekaligus kontraksi pertama kalinya dalam 20 tahun terakhir, menempatkan kepulauan dalam risiko serius resesi yang disebabkan COVID-19. Sebelumnya, produk domestik bruto (PDB) dalam negeri pada kuartal pertama tahun ini juga hanya tumbuh 2,97%.

Dilansir dari Nikkei, tingkat penurunan PDB kuartal kedua tersebut lebih besar dari perkiraan kontraksi 4,61% dalam jajak pendapat Reuters kepada 20 analis, dan lebih besar dari perkiraan 4,3% oleh Joko Widodo. Ini adalah penurunan pertama dalam PDB sejak kuartal pertama 1999 ketika terjadi krisis , menurut data dari Organization for Economic Cooperation and Development.

Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang diberlakukan di seluruh Indonesia untuk mengekang penyebaran virus, memengaruhi sebagian besar komponen kegiatan ekonomi. Konsumsi tangga, yang merupakan lebih dari setengah PDB Indonesia, menyusut 5,32% secara tahunan atau kontraksi pertama sejak kuartal terakhir 1998.

Sementara telah merilis paket stimulus dan Indonesia sudah memangkas suku bunga beberapa kali, ekonomi diperkirakan masih harus berjuang karena meningkatnya jumlah pasien virus corona, memaksa sejumlah kota untuk mempertahankan PSBB. Jakarta memperpanjang ‘periode transisi’ pada pekan lalu, yang berarti kantor, pusat perbelanjaan, dan tempat-tempat umum lainnya hanya dapat berjalan dengan setengah kapasitas.

Bank Indonesia memperkirakan ‘pemulihan berbentuk U’, yang berarti ekonomi kemungkinan akan merana untuk beberapa waktu. Resesi, yang didefinisikan sebagai negatif untuk dua kuartal berturut-turut, akan menjadi yang pertama di Indonesia sejak krisis keuangan Asia pada tahun 1998. Dalam skenario terburuk, pemerintah memperkirakan kontraksi setahun penuh sebesar 0,4%.

“Namun, kami tetap pesimistis pada kecepatan pemulihan di paruh kedua tahun ini, dengan pertumbuhan PDB mungkin turun 2,7% untuk tahun 2020 secara keseluruhan,” kata Sung Eun Jung, ekonom di Oxford Economics. “Kami memperkirakan jalur pemulihan yang lambat dengan pertumbuhan tahunan masih menyusut di paruh kedua tahun ini sebelum kembali ke wilayah positif pada 2021.”

Gareth Leather, ekonom senior Asia di Capital Economics, juga sependapat dengan pandangan ini, memperkirakan bahwa PDB akan berkontraksi sekitar 3% pada tahun ini. Menurutnya, dengan melaporkan sekitar 2.000 kasus baru untuk virus corona, memberikan sedikit tanda bahwa virus sudah dapat dikendalikan. “Takut tertular virus berarti orang enggan untuk sepenuhnya melanjutkan kehidupan normal mereka. Jarak sosial perlu bertahan lebih lama,” ujar Leather.

Sementara itu, World Bank sebelumnya telah mengatakan dalam laporan bulan Juli kemarin bahwa risiko terhadap prospek masih sangat miring ke bawah. Menurut catatan itu, sejak awal Juni, Jakarta dan beberapa lain di Indonesia telah mulai beralih ke normal baru, secara bertahap mengurangi pembatasan mobilitas.

“Ini dapat mengarah pada kebangkitan infeksi COVID-19,” tulis laporan World Bank. “Ini juga berpotensi memaksa pemerintah untuk memperkenalkan metode pembatasan mobilitas lain. Tindakan pengendalian seperti itu lagi akan membatasi permintaan dan penawaran serta membebani aktivitas ekonomi domestik.”

Loading...