Ekonomi Indonesia Alami Kontraksi, Rupiah Berakhir di Zona Merah

Rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III yang melambat menambah sentimen negatif bagi pergerakan rupiah selain faktor . Menurut laporan Bloomberg Index pukul 15.59 WIB, Garuda harus menutup perdagangan awal pekan (7/11) ini dengan melemah 18 poin atau 0,14% ke level Rp13.086 per dolar AS.

Pelemahan rupiah sudah terjadi sejak awal dagang dengan anjlok 37 poin atau 0,28% ke posisi Rp13.105 per dolar AS. Istirahat siang, mata uang Garuda kembali terdepresiasi 29 poin atau 0,22% ke Rp13.097 per dolar AS. Jelang tutup dagang atau pukul 15.42 WIB, spot masih berkutat di zona merah dengan turun 15 poin atau 0,11% ke posisi Rp13.083 per dolar AS.

Siang tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan III tercatat sebesar 5,02%. Jika dilihat secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi hingga triwulan III mencapai 5,04%, melambat jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang masih berada di level 5,18%.

Ada beberapa alasan mengapa pertumbuhan ekonomi nasional sedikit mengalami kontraksi. Alasan utama adalah kondisi ekonomi global pada kuartal III masih belum stabil dengan tingkat pertumbuhan yang tidak merata. “Ekonomi beberapa negara mitra dagang sebagian besar juga tumbuh melambat di kuartal III,” jelas Kepala BPS, Suhariyanto.

Dicontohkan Suhariyanto, pertumbuhan ekonomi stagnan di angka 6,7%, sedangkan pertumbuhan ekonomi melambat dari 2% menjadi 0,6%. Adapun pertumbuhan ekonomi di , turun dari 3,3% menjadi 2,7%. “Sebenarnya (ekonomi dalam negeri) sudah lumayan bagus, namun masih harus ditingkatkan, baik secara kuantitas maupun kualitas,” sambungnya.

Sebelumnya, para ekonom telah memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi nasional kuartal III tidak jauh dari angka 5,07%. “ dan investasi masih berperan menjaga pertumbuhan ekonomi dalam negeri, selain penjualan ritel dan yang cukup positif,” kata Ekonom , Josua Pardede.

Loading...