Ekonomi Global Melambat, Ekspor Manufaktur Asia Melorot

Manufaktur Asia - blog.quickcorp.co.idManufaktur Asia - blog.quickcorp.co.id

SINGAPURA – Produsen di beberapa yang sedang berkembang menghadapi penurunan untuk ekspor di tengah depresiasi uang, menurut survei Purchasing Managers’ Index (PMI) Nikkei terbaru, yang mencakup negara-negara besar di Benua Kuning, kecuali China. Perlambatan pertumbuhan ekonomi , sebagian karena perang perdagangan AS-China, secara bertahap memengaruhi produsen di wilayah tersebut.

Survei PMI bulanan tersebut mengamati tentang perubahan dalam output, pesanan, dan kondisi bisnis lainnya dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Pembacaan PMI di bawah 50 menunjukkan kontraksi, sementara satu di atas 50 poin untuk ekspansi. Salah satu tren dalam survei bulan lalu adalah pelonggaran ekspor dari negara-negara berkembang. Ini terjadi bahkan di negara-negara dengan lokal yang melemah, yang secara teori akan meningkatkan ekspor karena yang lebih murah mendorong negara lain untuk membelinya.

Di Filipina, peso telah melemah 8% terhadap dolar AS sepanjang tahun ini hingga akhir September. Sayangnya, di sisi lain, negara mencatat penurunan pesanan ekspor untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan, dengan New Export Orders Index berada di 49,8. Barang-barang ekspor utama Filipina adalah perangkat elektronik, dengan tujuan ekspor termasuk ke China dan AS. Mengingat dua ekonomi terbesar memberlakukan tarif satu sama lain, dapat disimpulkan bahwa telah terjadi penurunan permintaan dari pasar-pasar ini.

Sementara, New Export Orders Index di Indonesia berada di angka 49,5 untuk bulan September 2018, menandai kontraksi untuk bulan kesepuluh berturut-turut, meskipun rupiah telah jatuh ke posisi terendah dalam 20 tahun terhadap dolar AS dan masih berlanjut pada bulan ini. “PMI September untuk negara-negara berkembang menunjukkan bahwa sektor manufaktur di kawasan itu kehilangan momentum,” kata ekonom Asia di Capital Economics, Krystal Tan.

Indeks Pesanan Ekspor Baru di Taiwan juga turun menjadi 47,3 pada bulan September, atau kontraksi pertama sejak Mei 2016. Sejumlah perusahaan Taiwan menyebutkan ada permintaan yang lebih lemah di pasar-pasar utama seperti China, AS, dan Eropa. Karena Taiwan adalah rumah bagi pemasok elektronik seperti Taiwan Semiconductor Manufacturing Co., tren terbaru ini dapat memengaruhi produsen tersebut dalam beberapa bulan mendatang.

Secara keseluruhan, sepanjang September, di antara 15 PMI yang disurvei Nikkei, delapan negara memiliki pembacaan PMI lebih rendah daripada angka di bulan Agustus 2018, sedangkan enam negara lebih tinggi dari bulan lalu dan satu negara tidak berubah. Sektor manufaktur berada di puncak daftar dengan angka 52,5, diikuti oleh sektor manufaktur India di 52,2, sedangkan Myanmar memiliki angka terendah di 47,5.

Di balik berkurangnya permintaan dari luar negeri adalah ekonomi global yang melambat, sebagian dikarenakan perang perdagangan AS-China. Dana Moneter Internasional (IMF) pada awal Oktober menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global untuk 2018 sebesar 0,2 poin, menjadi 3,7% dari proyeksi sebelumnya pada bulan Juli. IMF juga menurunkan pertumbuhan ekspor di pasar negara berkembang sebesar 0,6 poin menjadi 4,7%.

Loading...