Ekonomi Cina Melambat, Perbankan Singapura Mulai Alami Krisis

www.businesstimes.com.sg

Perbankan mulai tidak sehat dan mengalami . Jika ekonomi Cina tidak juga membaik dan minyak terus , ancaman yang ditandai dengan penarikan (capital outflow) besar-besaran, kemungkinan akan terjadi di tahun ini.

Menurut data Bloomberg, salah satu bank terbesar di Singapura, DBS Group Holding, harus rela kehilangan posisinya sebagai bank terbesar di Asia Tenggara. Posisi DBS diambil alih Bank Central Asia (BCA) dari Indonesia. Pada 15 Februari, nilai DBS sekitar 19 persen ke 13,41 dolar Singapura (9,59 dolar AS). Sementara, nilai BCA relatif lebih tangguh.

Selain DBS, salah satu bank besar lainnya, Oversea-Chinese Banking Corp. (), juga telah kehilangan sekitar 13 persen nilai saham ke angka 7,64 dolar AS sejak akhir 2015 lalu. Sementara, saham United Overseas Bank (UOB) anjlok sekitar 9 persen ke 17,85 dolar AS.

Menurut Moody Investors Service, perbankan Singapura memang yang paling terkena dampak perlambatan ekonomi Cina, setelah Hong Kong. Pinjaman tiga bank terbesar di Singapura, DBS, OCBC, dan UOB, kepada Cina meningkat drastis dalam lima hingga enam tahun terakhir, dan saat ini perbankan Singapura mulai kehilangan modal, yang artinya deposit perbankan negara tersebut mulai berkurang.

Penyebab lain krisis perbankan di Singapura adalah anjloknya harga minyak dunia. Meski Singapura bukan negara penghasil minyak atau gas, namun negara-kota ini merupakan rumah untuk rig (pengeboran minyak) terbesar di dunia, Sembcorp Marine, anak Sembcorp Industries, serta Keppel Corp. Dengan minyak yang berlimpah, maka kegiatan pengeboran minyak yang dilakukan dua tersebut otomatis berkurang.

Di samping itu, perlambatan kinerja perusahaan Singapura juga membebani kegiatan pinjaman kepada bank. Total kredit perbankan pada Desember 2015 turun 1,2 persen dibanding tahun sebelumnya. Analis juga mengakui bahwa ada beberapa ketidakpastian atas kualitas kredit bank Singapura.

“Bank Singapura saat ini melakukan perjalanan yang menantang, dengan pertumbuhan yang cepat menghilang dan penurunan biaya,” kata UBS dalam laporannya, 4 Februari lalu.

Loading...