Ekonomi China Melonjak, Rupiah Berakhir Menguat 50 Poin

Mata Uang RupiahMata Uang Rupiah

JAKARTA – sanggup menutup Jumat (16/4) di teritori hijau ketika pertumbuhan China dan retail AS dilaporkan melonjak melebihi ekspektasi, menandai kebangkitan global. Menurut catatan Bloomberg Index pada pukul 14.57 WIB, mata uang Garuda berakhir menguat 50 poin atau 0,34% ke level Rp13.565 per .

Sebelumnya, Ekonom Sucor Sekuritas, Ahmad Mikail, seperti dilansir dari Kontan, sempat mengatakan bahwa rupiah berpotensi menguat pada akhir pekan. Katalis positif datang jika rilis pertumbuhan China positif. “Dari konsensus ekonom, pertumbuhan ekonomi China akan tumbuh, membuat yuan menguat, yang berimbas pada rupiah,” kata Mikail.

Menurut data terbaru yang diumumkan pagi tadi, ekonomi Negeri Panda pada kuartal I tahun 2021 dilaporkan tumbuh hingga 18,3% secara year-on-year, sekaligus rekor kenaikan tercepat di periode Januari-Maret. Berdasarkan data , realisasi pertumbuhan ekonomi ini juga adalah yang terkuat setidaknya sejak 1992, ketika pencatatan pertumbuhan kuartal resmi dilakukan.

Ekonomi China sebagian besar telah pulih dari kelumpuhan yang disebabkan Covid-19 di tahun lalu. Rebound ekonomi Negeri Tirai Bambu dipicu kemajuan vaksinasi global, ekspor yang tangguh, dan gelontoran stimulus yang diberikan pemerintah. Berdasarkan jajak pendapat Reuters, ekonomi terbesar kedua di dunia itu diperkirakan tumbuh 8,6% pada tahun ini.

Data lainnya datang dari AS, ketika Departemen Perdagangan AS mengumumkan penjualan ritel lanjutan naik 9,8% untuk bulan Maret 2021. Penjualan ritel AS naik paling tinggi dalam 10 bulan karena warga Negeri Paman Sam menerima pemeriksaan bantuan pandemi tambahan dari pemerintah dan peningkatan vaksinasi COVID-19 memungkinkan keterlibatan kembali ekonomi yang lebih luas.

Rebound penjualan dipimpin oleh kendaraan bermotor, dengan penerimaan di dealer mobil meningkat 15,1%, sedangkan penjualan di toko pakaian melonjak 18,3%. juga meningkatkan pengeluaran di restoran dan bar, yang menyebabkan lonjakan penerimaan sebesar 13,4%. Namun, penjualan di restoran dan bar lebih rendah 1,8% dibandingkan Maret 2020.

“Pejabat The Fed hingga saat ini mengatakan mereka memperkirakan dorongan akan cepat berlalu, dan tidak akan mempertimbangkan perubahan kebijakan sampai tenaga kerja berada pada kesempatan kerja penuh dan tingkat meningkat dengan kecepatan yang berkelanjutan,” kata kepala ekonom di FHN Financial, Chris Low, dilansir dari Reuters. “Namun, tekad mereka akan diuji dalam beberapa bulan mendatang.”

Loading...