Ekonomi China Melesat, Rupiah Tetap Berakhir Negatif

Rupiah melemah pada perdagangan Senin (18/1) sore - www.jawapos.com

JAKARTA – Rupiah praktis tidak memiliki tenaga dan harus puas bertengger di area merah pada Senin (18/1) sore meskipun data terbaru menunjukkan pertumbuhan yang melebihi perkiraan. Menurut laporan Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda ditutup melemah 50 poin atau 0,36% ke level Rp14.070 per .

Sementara itu, menurut data yang dirilis Bank Indonesia pukul 10.00 WIB, kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.080 per dolar AS, terdepresiasi 12 poin atau 0,08% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.068 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia juga tidak berdaya melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,45% dialami won Korea Selatan.

Mata uang Benua Kuning, seperti dilansir dari CNBC Indonesia, tidak bisa selamat dari zona merah meski ekonomi China pada kuartal keempat 2020 dilaporkan mengalami pertumbuhan sebesar 6,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini merupakan catatan terbaik sejak kuartal keempat 2018, sekaligus sudah mencapai level sebelum menghantam dunia.

Sentimen negatif masih berasal dari COVID-19 yang kian mengganas di awal tahun 2021. Per tanggal 17 Januari 2021, jumlah pasien positif virus corona di seluruh dunia mencapai angka 93.194.922 orang atau bertambah 0,74% dari hari sebelumnya. Perkembangan ini membuat berbagai negara kembali memperketat pembatasan sosial (social distancing), bahkan sampai ke taraf karantina wilayah (lockdown).

Dari global, indeks dolar AS mampu mempertahankan keuntungan pada hari Senin dan yen Jepang naik tipis karena meningkatnya kasus virus corona secara global membuat berhati-hati dan lebih memilih bermain aman. Mata uang Paman Sam terpantau menguat  0,088 poin atau 0,1% ke level 90,860 pada pukul 11.46 WIB.

Dilansir dari Reuters, data ekonomi China yang lebih baik dari perkiraan memicu penjualan lebih lanjut, tetapi tidak cukup untuk mengubah mood pedagang mata uang. Suasana memburuk setelah data hari Jumat (15/1) menunjukkan penjualan ritel AS turun tiga bulan beruntun, memicu kekhawatiran bahwa pemulihan mengalami masalah karena otoritas memperingatkan gelombang terburuk COVID-19 terbaru mungkin belum datang.

“Pasar sedang menunggu dan melihat mode perdebatan tentang greenback, dalam hal apakah imbal hasil AS lebih tinggi dapat memberikan dukungan atau apakah kami melihat penurunan lebih lanjut,” kata analis mata uang Bank of Singapore, Moh Siong Sim. “Saya pikir keseimbangan risiko masih mendukung lingkungan reflasi, dan karena itu, sentimen risiko harus tetap positif dan kita akan melihat penurunan dolar AS lebih lanjut.”

Loading...