Ekonomi China Melambat, Rupiah Berakhir Lesu

Rupiah - ekonomi.metrotvnews.comRupiah - ekonomi.metrotvnews.com

JAKARTA – Rupiah tetap gagal melaju ke area hijau pada Kamis (14/11) sore ketika di cenderung bergerak variatif menyusul laporan terbaru China yang menunjukkan perlambatan. Menurut paparan Index pada pukul 15.55 WIB, mata uang Garuda ditutup melemah tipis 9 poin atau 0,06% ke level Rp14.088 per AS.

Sementara itu, siang tadi Bank Indonesia menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.098 per dolar AS, terdepresiasi 16 poin atau 0,11% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.082 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mata uang Asia bergerak mixed terhadap , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,13% dialami yen Jepang dan pelemahan terdalam sebesar 0,3% menghampiri won Korea Selatan.

Bloomberg melaporkan, pergerakan mata uang Benua Kuning cenderung variatif pada hari Kamis, ketika data ekonomi terbaru China dilaporkan mengecewakan, di tengah kewaspadaan mengenai perkembangan pembicaraan perdagangan AS-China. Ekonomi Negeri Panda dilaporkan melambat sepanjang bulan Oktober kemarin, dengan output industri dan penjualan ritel berada di bawah prediksi.

“Kita belum stabil dan momentum dalam ekonomi masih merupakan salah satu dari perlambatan,” ujar ekonom HSBC Holdings Plc., Julia Wang. “Kami sedikit khawatir bahwa pelambatan akan menyebar ke kerja pada tahun 2020, dan itu akan merugikan belanja konsumen. Sekitar satu setengah tahun, ini adalah perlambatan manufaktur paling tajam yang dialami China dalam beberapa dekade terakhir.”

Negosiasi perdagangan dengan AS yang berbelit-belit telah menghantam pembelian di sektor pertanian, dengan Beijing tidak menginginkan kesepakatan sepihak, demikian berita yang diturunkan Wall Street Journal pada Rabu (13/11) kemarin. Laporan itu muncul setelah Presiden AS, Donald Trump, mengatakan kesepakatan perdagangan dengan China ‘dekat’, tetapi tidak memberikan rincian dan justru memperingatkan bahwa ia akan menaikkan tarif jika tidak ada kesepakatan.

Sebuah jajak pendapat Reuters terbaru menunjukkan sebagian besar ekonom tidak yakin bahwa Washington dan Beijing dapat mencapai gencatan senjata perdagangan permanen selama tahun mendatang. Padahal, kesepakatan bulan lalu untuk menandatangani pakta ‘fase satu’ untuk mengakhiri perang perdagangan sempat meningkatkan optimisme di pasar keuangan , mengangkat mata uang berisiko.

Loading...