Efek Perang Dagang, Tahun 2020 Ekonomi Asia Diprediksi Masih Melambat

Ekonomi Asia - www.inews.idEkonomi Asia - www.inews.id

TOKYO – Sebuah survei baru-baru ini yang dilakukan oleh JCER (Japan Center for Economic Research) menunjukkan bahwa ekonomi Asia akan tetap lemah pada tahun 2020 mendatang, dari perlambatan tiba-tiba di tahun 2019 dan tensi dagang AS-China yang belum benar-benar usai. Para ekonom melihat ketegangan perdagangan dan geopolitik masih menjadi faktor risiko utama.

Dilansir dari Nikkei, tingkat pertumbuhan ekonomi lima ASEAN pada tahun 2020 diproyeksikan naik menjadi 4,2% dari proyeksi 2019 sebesar 3,9%, tetapi angka tersebut tetap jauh lebih rendah daripada tingkat sebelum 2018. Sementara, perkiraan pertumbuhan India untuk fiskal 2019/2020 diproyeksikan sebesar 5,0%, penurunan tajam dari 6,8% yang tercatat pada tahun fiskal sebelumnya.

JCER dan Nikkei melakukan survei konsensus triwulanan dari 22 November hingga 11 Desember 2019, mengumpulkan 44 jawaban dari para ekonom dan analis di lima ASEAN terbesar, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand, serta dari India. Menantikan tahun yang akan datang, para ekonom mendaftar ketegangan AS-China, pemilihan AS, perlambatan ekonomi China, dan risiko geopolitik sebagai faktor-faktor yang memengaruhi ekonomi .

Prospek pertumbuhan 2019 untuk lima negara besar ASEAN direvisi turun 0,2 poin dari survei sebelumnya pada September menjadi 3,9%, menandai revisi keenam berturut-turut ke bawah sejak survei September 2018. Proyeksi pertumbuhan tahun 2020 tidak berubah dari survei sebelumnya sebesar 4,2%. Angka ini meski lebih tinggi 0,3 poin dari perkiraan 2019, tetapi tidak sekuat tingkat pertumbuhan 5,0% pada 2017 dan 4,8% pada 2018.

Perlambatan ekonomi akan terlihat di Malaysia, Thailand dan Singapura yang berorientasi ekspor. Tingkat pertumbuhan Malaysia diproyeksikan menurun dari 4,7% pada tahun 2018 menjadi 4,5% pada tahun 2019, dan turun lagi menjadi 4,3% pada tahun 2020. Wan Suhaimie dari Kenanga Investment Bank di Malaysia memperkirakan, pertumbuhan menjadi moderat menuju tahun 2020 di belakang meningkatnya headwinds eksternal.

Proyeksi Thailand tahun 2019 direvisi turun 0,5 poin menjadi 2,4%, turun 1,7 poin dari 2018, dan perkiraan 2020 direvisi turun 0,4% menjadi 2,6%. Menurut Amonthep Chawla dari CIMB Thai Bank, ekonomi Negeri Gajah Putih diproyeksikan akan tumbuh pada kecepatan lambat pada tahun 2020 setelah perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian perang perdagangan. Sementara, tingkat pertumbuhan 2019 Singapura diproyeksikan turun tajam menjadi 0,7%, turun dari 3,1% pada 2018.

Di Indonesia, ekonomi diperkirakan akan tumbuh sekitar 5% pada 2019 dan 2020, tetapi proyeksi 2019 direvisi sedikit turun dari survei sebelumnya. domestik tetap kuat, namun menurut Dendi Ramdani dari Bank Mandiri, ekonomi Indonesia berada di bawah tekanan karena pertumbuhan ekspor yang rendah karena harga komoditas relatif rendah.

Sementara itu, tingkat pertumbuhan 2019 untuk Filipina diproyeksikan turun di bawah 6% untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, sebagian karena keterlambatan dalam pelaksanaan publik. Tingkat pertumbuhan diperkirakan akan kembali ke 6,5% pada tahun 2020. Jonathan Ravelas dari BDO Unibank mengharapkan ‘dosis ganda stimulus’, seperti peningkatan belanja dan kebijakan moneter yang mudah, untuk mendorong momentum pertumbuhan.

Di kawasan Asia Selatan, ekonomi India melambat secara dramatis pada 2019. Tingkat pertumbuhan mencapai 5,0% pada periode April-Juni dan 4,5% pada Juli-September, karena perlambatan ekonomi global dan masalah di sektor keuangan. Perkiraan untuk fiskal 2019/2020 diturunkan sebesar 1,1 poin menjadi 5,0%. Proyeksi adalah 6,9% pada survei Juni dan 6,1% pada survei September.

Survei itu bertanya kepada para ekonom tentang masalah atau peristiwa yang akan penting bagi ekonomi dunia dan domestik. Banyak ekonom mencatat dampak global perang dagang AS-China akan menjadi risiko teratas untuk Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Sementara, perlambatan ekonomi Negeri Panda adalah risiko tersendiri di Singapura. Pemilihan presiden AS adalah masalah besar lainnya.

Loading...