Ekonomi Asia Diproyeksikan Naik Seperti Sebelum Brexit

Pertumbuhan di kawasan diproyeksikan bakal kembali naik seperti ketika Inggris belum memutuskan keluar dari Uni Eropa (). Reformasi , peningkatan , dan asing merupakan beberapa faktor yang bakal mendukung pertumbuhan ekonomi di benua terbesar di dunia itu.

Menurut survei yang dilakukan Japan Center for Economic Research dan Nikkei terhadap 36 ekonom dari lima terbesar di dan India, perkiraan ekonomi di India untuk tahun fiskal setelah 2016-2017 bakal berada di angka 7,7 persen, 7,9 persen, dan 8,1 persen. Meski angka untuk periode 2016-2017 direvisi turun sebesar 0,1 poin dari survei sebelumnya, namun perkiraan pertumbuhan ekonomi pada 2018-2019 direvisi naik sebesar 0,4 persen.

“Peningkatan konsumsi publik merupakan salah satu pendorong pertumbuhan di India,” ujar Kepala Ekonom di CRISIL, Dharmakirti Joshi. “Di samping itu, cuaca yang baik telah meningkatkan kinerja sektor pertanian. Investasi di sektor swasta juga telah membantu pertumbuhan.”

Sementara itu, ditambahkan Senior di Center For Policy Research, Rajiv Kumar, keputusan Reserve Bank of India yang memotong suku bunga acuan sebesar 0,25 basis poin menjadi 6,25 persen pada 4 Oktober lalu mendorong permintaan di sektor investasi, perumahan, dan barang konsumsi. “Reformasi pajak dari Perdana Menteri Narendra Modi juga dapat berefek positif,” sambungnya.

Sementara, di ASEAN, tingkat pertumbuhan di wilayah itu diprediksi akan merayap naik dari 4,4 persen pada tahun ini menjadi 4,7 persen pada tahun 2018 mendatang. Di Filipina, untuk tahun 2016 dan 2017, perkiraan pertumbuhan direvisi naik, masing-masing menjadi 6,6 persen dan 6,4 persen. “Belanja publik masih tetap kuat, selain infrastruktur yang mendorong pertumbuhan,” kata Analis Riset di Metrobank, Pauline Revillas.

Adapun di , perkiraan pertumbuhan direvisi turun untuk tahun 2017 dan 2018 karena perlambatan ekonomi dunia. Meski begitu, tingkat pertumbuhan diharapkan dapat naik dari 5,1 persen di tahun ini menjadi 5,5 persen pada 2018. “Pertumbuhan konsumsi swasta, belanja pemerintah, dan investasi bakal menjadi faktor pendukung,” ujar Ekonom Maybank , Juniman.

Di Thailand, perkiraan pertumbuhan pada tahun ini dan tahun depan juga direvisi turun karena hasil yang lebih baik dari perkiraan di semester pertama 2016. Adapun di Malaysia, perkiraan direvisi turun untuk tahun fiskal ketiga di 2018. “Tren ekspor yang melambat adalah hambatan utama pertumbuhan ekonomi di negara ini,” kata Kepala Ekonom di RHB Research, Lim Chee Sing.

Loading...