Ekonomi AS Pulih Lebih Cepat, Rupiah Berakhir Melemah

Rupiah - www.jatengpos.comRupiah - www.jatengpos.com

JAKARTA – praktis tidak memiliki cukup tenaga untuk keluar dari zona merah pada Selasa (9/3) sore, tertekan kenaikan imbal hasil obligasi AS serta normalisasi AS yang lebih cepat dari prediksi. Menurut Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda ditutup melemah 45 poin atau 0,31% ke level Rp14.405 per AS.

Sementara itu, yang diterbitkan Bank Indonesia pukul 10.00 WIB menetapkan acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.468 per dolar AS, terdepresiasi 0,54% dari sebelumnya di level Rp14.390 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia juga tidak berdaya melawan , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,71% dialami dolar Taiwan.

Pelemahan yang dialami sebagian besar mata uang Benua Kuning lantaran indeks dolar AS terus bertahan di dekat level tertinggi 3,5 bulan terhadap mitra utama, didukung imbal hasil obligasi yang lebih tinggi dan ekspektasi normalisasi ekonomi AS yang lebih cepat. Mata uang Paman Sam terpantau cuma melemah tipis 0,009 atau 0,01% ke level 92,304 pada pukul 10.54 WIB.

“Meningkatnya imbal hasil obligasi AS jelas mendorong greenback,” papar ahli strategi senior di Daiwa Securities, Yukio Ishizuki, dikutip dari Reuters. “Namun, yang ada di baliknya adalah realisasi bahwa program vaksinasi AS berjalan sangat cepat dan normalisasi ekonomi AS mungkin terjadi lebih awal dari yang diperkirakan orang, mungkin sekitar satu atau dua kuartal.”

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS mengatakan bahwa mereka yang divaksinasi penuh sudah dapat bertatap muka dengan orang lain yang telah diinokulasi tanpa menggunakan masker di dalam ruangan dalam kelompok kecil. Rekomendasi datang karena sekitar 30 juta orang, atau 9,2% dari populasi AS, telah mendapatkan vaksin.

Dengan tersebut, ekonomi AS diyakini akan pulih lebih cepat dari yang diperkirakan. Tentunya, pemulihan ekonomi dan peningkatan permintaan pada akhirnya akan menyebabkan tekanan inflasi. “Itu juga mengarah pada pertanyaan, apakah The Fed dapat mempertahankan proyeksi bahwa mereka tidak akan menaikkan suku bunga hingga 2023. Beberapa pembuat kebijakan mungkin mengubah pandangan mereka pada pertemuan minggu depan,” sambung Ishizuki.

Loading...