Efek Tarif Impor Baru AS, Rupiah Dibuka Melemah ke Level Rp 14.415/USD

Rupiah - kumparan.comRupiah - kumparan.com

Jakarta mengawali pagi hari ini, Kamis (12/7), dengan pelemahan sebesar 30 poin atau 0,21 persen ke posisi Rp 14.415 per AS. Sebelumnya, Rabu (11/7), kurs rupiah ditutup terdepresiasi sebesar 18 poin atau 0,13 persen ke level Rp 14.385 per AS.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan USD terhadap sejumlah mata uang utama terpantau masih mempertahankan penguatannya. Di akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS menguat 0,58 persen menjadi 94,701 lantaran ketegangan kondisi perdagangan antara Amerika Serikat dengan mitra dagang utamanya terus meningkat.

Pada Selasa (10/7), perwakilan perdagangan AS menyatakan bahwa Washington tengah menyiapkan diri untuk menerapkan tarif 10 persen terhadap 200 miliar dolar AS lainnya dari China. Pengumuman tersebut datang beberapa hari usai Amerika Serikat memberlakukan tarif 25 persen pada 34 miliar dolar AS barang-barang impor asal China.

Sementara itu, dari sektor ekonomi, Departemen AS melaporkan pada Rabu (11/7) bahwa Indeks Produsen untuk akhir naik 0,3 persen pada Juni 2018 yang disesuaikan secara musiman, melebihi prediksi pasar untuk kenaikan sebesar 0,2 persen. Sedangkan pada basis yang tidak disesuaikan secara musiman, indeks akhir meningkat 3,4 persen untuk 12 bulan yang berakhir pada Juni 2018, sekaligus menandakan kenaikan 12 bulan terbesar sejak naik 3,7 persen pada November 2011 lalu.

Di sisi lain, rupiah sebagai salah satu mata uang pasar negara berkembang pun tentunya terpengaruh oleh penerapan tarif impor terbaru untuk barang China yang akan diberlakukan oleh pemerintah AS. Nilai impor diketahui mencapai USD 200 miliar. “Pasar bereaksi negatif terhadap keputusan Presiden Donald Trump,” kata ekonom Samuel Sekuritas Indonesia Ahmad Mikail, seperti dilansir Kontan.

Analis Asia Tradepoint Futures Andri Hardianto menambahkan bahwa dari domestik masih belum ada sentimen pendukung yang mampu menggerakkan rupiah di pasar spot. Mikail sendiri memperkirakan jika mata uang Garuda berpeluang untuk menguat karena aliran dana asing kembali masuk ke pasar obligasi.

Loading...