Efek Suku Bunga Negatif Bank of Japan di Pasar Keuangan

Pada akhir Januari lalu, Bank of Japan () mengejutkan pasar usai mengumumkan kebijakan negatif hingga minus 0,1%. Kebijakan ini pun langsung berefek negatif terhadap pasar keuangan, bahkan sebelum benar-benar berlaku pada pada 16 Februari 2016.

Menurut Gubernur BoJ, Haruhiko Kuroda, kebijakan baru tersebut bertujuan untuk mendorong kurva yield sehingga membuat pinjaman lebih murah dan mendorong pinjaman baru. Namun menurut survei BoJ, 69% pelaku mengatakan bahwa fungsi pasar justru menurun jika dibandingkan tiga bulan sebelumnya.

Dalam 10 tahun, suku bunga pinjaman rumah tangga yang sebelumnya 1,05% sebelum pengenalan suku bunga negatif, turun menjadi 0,8%. Tiga bank terbesar di Jepang pun harus memotong suku bunga mereka ke rekor terendah, yaitu 0,001%. Ini berarti, nasabah hanya akan menerima 10 pendapatan untuk deposit 1 juta .

Selain itu, kebijakan baru tersebut juga membuat 11 perusahaan dana pasar berhenti menerima investasi baru, demikian menurut laporan BoJ. Ditambahkan surat kabar Nikkei, perusahaan-perusahaan tersebut berencana mengembalikan dana kepada . Sementara menurut analisis Deutsche Bank, dana tersebut kemungkinan akan dipindahkan menjadi deposito.

Di samping itu, kebijakan pelonggaran moneter oleh BoJ yang dimaksudkan untuk merangsang pinjaman, justru membuat pertumbuhan kredit sedikit melambat pada Februari. Meski di sisi lain, ada beberapa aktivitas, seperti Shinsei Bank Ltd. yang mengalami lompatan empat kali lipat dalam pinjaman rumah usai memotong beberapa suku bunga KPR pada awal Februari.

Kebijakan suku bunga negatif juga menurunkan sentimen kepercayaan perusahaan Jepang kepada pemerintah, menurut survei untuk kuartal pertama 2016, menyusul kontraksi pada kuartal terakhir 2015 lalu. Kekhawatiran anggota parlemen terhadap BoJ juga meningkat jika melihat tingginya intensitas pemanggilan Kuroda untuk menjawab pertanyaan di parlemen.

Loading...