Efek Shutdown di AS Bikin Rupiah Semakin Perkasa Terhadap Dolar AS

rupiah - www.voaindonesia.comrupiah - www.voaindonesia.com

Jakarta – Kurs mengawali pagi hari ini, Jumat (25/1), dengan penguatan sebesar 15 poin atau 0,11 persen ke level Rp 14.155 per . Kemarin, Kamis (24/1), nilai tukar mata Garuda berakhir terapresiasi 18 poin atau 0,13 persen ke posisi Rp 14.170 per USD.

Indeks yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,51 persen menjadi 96,6067 lantaran didukung berbagai data Amerika Serikat yang positif.

Departemen Amerika Serikat melaporkan, pada pekan yang berakhir 19 Januari 2019, klaim awal pengangguran di AS, angka kasar untuk mengukur pemutusan hubungan kerja (PHK) mencapai angka 199.000 atau turun 13.000 dari tingkat yang direvisi pekan sebelumnya. Angka PHK tersebut adalah level terendah untuk klaim awal sejak 15 November 1969 silam yang kala itu berada di angka 197.000.

Seperti dilansir Xinhua melalui Antara, euro melemah usai laporan terbaru menunjukkan ekonomi zona euro sedikit lebih dekat dengan stagnasi di awal tahun 2019, dengan -perusahaan yang membukukan kenaikan terlemah dalam output selama lima setengah tahun dan penurunan pertama dalam permintaan selama lebih dari 4 tahun.

Penyedia informasi HIS Markit melaporkan pada Kamis (24/1) bahwa Indeks Pembelian Manajer (PMI) Komposit Zona Euro IHS Markit turun jadi 50,7 pada Januari 2019 dari angka 51,1 pada Desember 2018, level terendah sejak Juli 2013 lalu.

Rupiah sendiri berhasil menguat karena efek government shutdown di AS. Menurut Analis Global Kapital Investama Nizar Hilmy, government shutdown yang berlangsung 33 hari telah mengakibatkan investor global mulai mengkhawatirkan ekonomi AS. Terlebih karena hingga kini masih belum ada tanda-tanda shutdown diakhiri. “Ini membuat potensi ekonomi AS di kuartal I-2019 suram dan dollar AS melemah,” kata Nizar, seperti dilansir Kontan. Hal itu pula yang mengakibatkan The Fed kesulitan untuk menaikkan suku bunga lagi pada tahun ini.

Analis Pasar Uang Bank Mandiri Reny Eka Puteri juga berpendapat jika rupiah bergerak stabil lantaran adanya kepercayaan investor asing di pasar domestik. Apalagi karena Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan jika kini kondisi ekonomi Indonesia berada dalam kondisi stabil.

Loading...