Efek Perang Dagang, Pasar Keuangan Indonesia & India Rawan Ditinggalkan Investor

Efek Perang Dagang - ivoox.idEfek Perang Dagang - ivoox.id

TOKYO – Saat ini, sedang dibuat cemas dengan tensi yang semakin meningkat sejak berlakunya impor AS terhadap -produk asal . Menurut S&P Global Ratings, tensi perdagangan ini berpotensi meningkatkan ketidakpastian ekonomi di Asia serta mengirimkan ‘riak-riak’ di pasar keuangan dan India.

“Investor telah bergeser dari pasar negara berkembang karena suku bunga di AS yang lebih baik, dan ketidakpastian ekonomi yang sedang berlangsung akan semakin mendorong pergeseran ini,” papar kepala ekonom global untuk S&P Global Ratings, Paul Gruenwald, seperti dikutip dari Nikkei. “(Efek) relatif ke seluruh Asia, namun saya pikir India dan Indonesia mungkin yang paling berisiko.”

Gruenwald menambahkan, meskipun kondisi ekonomi saat ini tidak rentan seperti pada 2013 lalu, namun aliran modal akan keluar mengikuti tanda-tanda pertama dari normalisasi kebijakan moneter di AS, dikenal sebagai ‘taper tantrum’. Serangan arus keluar modal, yang dimulai pada bulan April 2018, juga dipicu oleh pengetatan dan ekspektasi bahwa The Fed akan lebih agresif dalam memerangi inflasi daripada yang diantisipasi sebelumnya.

Ketidaknyamanan diperparah oleh eskalasi dalam percekcokan perdagangan antara AS dan China. Pada hari Jumat (6/7) kemarin, AS memberlakukan tarif sebesar 34 miliar dolar AS untuk produk asal China, dan Negeri Panda membalas dengan skala yang sama. Ini hanyalah bagian pertama dari rencana untuk mengenakan tarif 50 miliar dolar AS pada barang impor masing-masing negara, dan itu bisa diikuti dengan putaran tarif lain sebesar 100 miliar dolar AS.

Para ekonom setuju bahwa dampak langsung dari tarif ini akan terbatas. Perhatian sebenarnya adalah bahwa perselisihan yang berkepanjangan dapat menyebabkan penundaan dalam . Kekhawatiran tentang perang dagang kemungkinan akan mengurangi selera investor untuk aset berisiko dan dapat memicu aliran modal keluar lebih jauh dari pasar negara berkembang, dengan Indonesia dan India di garis terdepan.

Kedua negara menjalankan defisit neraca berjalan yang cukup besar, mengandalkan utang luar negeri untuk membiayai pembangunan. Arus modal keluar pada tahun 2013 mengirim rupee India dan rupiah tergelincir lebih dari 20%. Kedua negara sebelumnya adalah perbatasan baru bagi para investor yang mencari peluang di luar negara berkembang yang lebih mapan seperti Taiwan dan Malaysia.

“Indonesia dan India telah dilihat sebagai pelengkap bagi negara berkembang lainnya karena keduanya lebih berorientasi pada permintaan domestik, dengan populasi besar dan kelas menengah yang meningkat, sehingga menawarkan investasi produk,” sambung Gruenwald. “Tetapi, fakta ini berarti kedua negara adalah yang pertama yang bergidik di saat terjadi gejolak pasar.”

Di sisi lain, China yang menjadi titik fokus sengketa perdagangan, menurut Gruenwald juga tidak akan bebas dari gejolak keuangan. Sejak April kemarin, mata uang yuan telah jatuh lebih dari 5% terhadap dolar AS. Sementara, pasar saham Shanghai telah jatuh lebih dari 20% sejak mencapai puncaknya di bulan Januari, tanda lain dari berkurangnya kepercayaan.

Di jantung ketidakstabilan pasar ini adalah tingkat utang China yang tinggi. Menurut Bank for International Settlements, utang perusahaan non-keuangan di China mencapai 160% dari produk domestik bruto (PDB) pada akhir 2017, dibandingkan dengan 103% untuk dan 74% untuk AS. Utang tersebut digunakan untuk membiayai akuisisi di luar negeri dan untuk investasi modal dalam negeri di sektor semen, pembuatan baja, pembuatan kapal, energi terbarukan, dan sebagainya.

“Pertumbuhan China telah ditopang oleh lingkaran pertumbuhan upah yang stabil, yang menciptakan kepercayaan dalam sistem ekonomi, mendorong orang untuk memasukkan uang mereka dalam sistem perbankan, yang kemudian meminjamkan uang kepada perusahaan,” ujar Gruenwald. “Selama lingkaran itu terus berjalan, maka model itu dapat berlanjut. Namun, jika kepercayaan hilang, maka Anda akan melihat tekanan.”

Loading...