Efek Perang Dagang, Pabrikan Perakit iPhone Pindah ke Indonesia

Perakit iPhone - elcomercio.pePerakit iPhone - elcomercio.pe

TAIPEI – perakit iPhone, Pegatron, dikabarkan berencana untuk memindahkan pabrik mereka dari China ke , imbas perang yang tidak kunjung usai antara Washington dan Beijing. yang berbasis di Taiwan itu bersiap mengalihkan non-iPhone ke sebuah tempat di Pulau Batam dalam enam bulan ke depan.

Seperti dikutip dari Nikkei, seorang sumber yang mengatakan bahwa akan dimulai dalam bulan ini, dengan produksi penuh diharapkan pada pertengahan 2019 mendatang. Langkah Pegatron ini menyoroti tekanan yang terus meningkat pada banyak di China dalam beberapa terakhir, dan sekarang terhimpit oleh ketegangan perdagangan, meningkatnya upah di negara itu, dan kekurangan .

“Keputusan Pegatron untuk melakukan diversifikasi keluar dari China tidak akan berubah meski ada kabar gencatan senjata yang baru-baru ini terjadi antara para pemimpin China dan AS pada pertemuan G20 akhir pekan lalu,” kata sumber itu. “Pertemuan Presiden AS, Donald Trump dan Presiden China, Xi Jinping, tidak akan memengaruhi langkah strategi Pegatron.”

Di samping itu, Pegatron kabarnya juga sedang mengevaluasi kemungkinan Vietnam bagian utara sebagai lokasi lain. Negara ini sendiri telah memiliki rantai pasokan elektronik yang terus berkembang berkat operasi perakitan smartphone Samsung Electronics. “Tetapi, investasi di pulau Batam lebih cepat dari tempat lain,” tambah sumber itu.

Terletak hanya 20 km dari pantai selatan Singapura, Batam adalah bagian terdekat dari Indonesia ke Singapura dan bagian dari zona perdagangan bebas di Segitiga Indonesia-Malaysia-Singapura. Pegatron akan menyewa pabrik yang dapat mempekerjakan 8.000 hingga 10.000 pekerja. Perusahaan memilih menyewa daripada membangun baru untuk memastikan produksi sesegera mungkin, yang memungkinkan grup untuk memindahkan peralatan dari China lebih cepat.

Dibandingkan dengan rekan-rekan Taiwan lainnya, seperti Foxconn Technology Group, Wistron, Inventec, dan Compal Electronics, yang semuanya telah memiliki fasilitas di Asia Tenggara selama bertahun-tahun, Pegatron enggan berinvestasi manufaktur di luar China. Namun sekarang, selain perang dagang, kondisi di Negeri Tirai Bambu semakin sulit.

Selama musim puncak antara September dan November setiap tahun, Pegatron, bersama dengan anak perusahaannya, membutuhkan lebih dari 200.000 pekerja setiap tahun. Di China sendiri, saat ini semakin sulit untuk menemukan para pekerja, mengingat tingginya pergantian staf dan persaingan sengit antara produsen elektronik untuk tenaga kerja.

Chief Financial Officer Pegatron, Charles Lin, sebelumnya mengatakan bahwa fasilitas baru Pegatron dapat tersebar di tiga negara di Asia Tenggara. Namun, menurut analis, langkah ini membuat pabrikan harus berurusan dengan biaya fasilitas baru, peralatan bergerak, keahlian membangun, dan staf pelatihan. Mereka harus melakukan ini sambil mempertahankan kualitas produksi pada tingkat tinggi, bahkan ketika mereka mengalihkan produksi dari China.

Perusahaan lain, Wistron, sebelumnya sempat mengonfirmasi bahwa mereka akan merelokasi sebagian produksi untuk server motherboard dan produk lainnya ke kota Hsinchu di Taiwan utara dan ke fasilitas yang ada di Subic Bay di Filipina. Sementara, Quanta baru-baru ini menghabiskan 4,28 miliar dolar Taiwan untuk membeli sebidang tanah dan bangunan di dekat markas besarnya di Taoyuan, karena memindahkan beberapa perangkat kelas atas kembali ke Taiwan.

Menurut ketua perakit iPhone di Foxconn, Terry Gou, ketegangan perdagangan akan berlangsung lima hingga 10 tahun, meskipun ada gencatan senjata. Rantai pasokan global harus menyesuaikan strategi mereka dengan membangun jaringan internasional baru. “Kebijakan tidak pasti menyebabkan tekanan pada produsen. Hanya melalui strategi multi-lokasi, mereka dapat merespons dinamika yang cepat berubah,” kata Gou.

Loading...