Efek Kebijakan PPKM, Rupiah Berakhir Melemah 0,75%

Rupiah melemah pada perdagangan Senin (11/1) sore - investor.id

Rupiah harus menerima nasib bertengger di zona merah hingga Senin (11/1) sore, karena tertekan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) serta kebangkitan greenback. Menurut laporan Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda ditutup 105 poin atau 0,75% ke level Rp14.125 per .

Sementara itu, data yang diterbitkan Bank Indonesia pukul 10.00 WIB tadi menempatkan kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.058 per AS, terdepresiasi 0,86% dari transaksi sebelumnya di level Rp13.938 per AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia juga tidak berdaya melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,68% dialami won Korea Selatan.

Menurut analisis CNBC Indonesia, salah sentimen negatif yang membayangi rupiah adalah kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang mulai berlaku hari ini di beberapa daerah di Pulau Jawa dan Bali. Mirip dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), hanya lingkupnya lebih lokal, sejumlah pembatasan diberlakukan, termasuk perkantoran non-esensial diimbau menerapkan kerja dari rumah (work from home) 75%, pusat perbelanjaan wajib tutup pukul 19.00 WIB, dan restoran boleh menerima pengunjung yang makan-minum di tempat dengan maksimal 25% dari total kapasitas.

Sentimen negatif lainnya adalah indeks dolar AS yang mampu memperpanjang rebound pada hari Senin, karena kenaikan tajam dalam imbal hasil AS dan harapan untuk lebih banyak stimulus akhirnya mendorong beberapa untuk meredam taruhan bearish. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,0305 poin atau 0,34% ke level 90,403 pada pukul 11.02 WIB.

Seperti dilansir dari Reuters, AS terpilih, Joe Biden, yang bakal menjabat pada 20 Januari 2021 dengan Partai Demokrat mampu mengendalikan kedua majelis Kongres, telah menjanjikan triliunan dolar AS untuk pengeluaran bantuan pandemi. Hal tersebut telah mendorong imbal yield AS 10-tahun naik lebih dari 20 basis poin menjadi 1,1187% tahun ini.

“Sumber yang mendasari kebangkitan adalah setelah pemilihan Senat dan mengantisipasi bahwa kita mungkin mendapatkan lebih banyak dukungan fiskal secara substansial untuk ekonomi AS,” kata kepala strategi FX National Australia Bank, Ray Attrill. “Semua orang bertanya apakah ini mengubah narasi dolar AS yang lebih lemah, dan itulah mengapa saya pikir kita mendapatkan sedikit kelanjutan dari apa yang kita lihat pada akhir pekan.”

Loading...