Efek Government Shutdown AS, Rupiah Lanjut Bergerak ke Zona Hijau

Rupiah - www.jayabaya.ac.idRupiah - www.jayabaya.ac.id

Jakarta mengawali pagi hari ini, Jumat (28/12) dengan penguatan sebesar 8 poin atau 0,05 persen ke level Rp 14.553 per dolar AS. Kemudian rupiah melanjutkan penguatannya sebesar 18 poin atau 0,12 persen ke posisi Rp 14.543 per USD. Sebelumnya, Kamis (27/12), Garuda berakhir terapresiasi 16 poin atau 0,11 persen ke posisi Rp 14.561 per USD.

Rupiah diperkirakan stabil sampai penutupan perdagangan di akhir tahun ini. Pasalnya, penutupan pemerintahan atau government shutdown di Amerika Serikat telah mengakibatkan gerak dolar AS cenderung kurang bertenaga.

Menurut Josua Pardede, ekonom Bank Permata, indeks dolar AS melemah lantaran masih belum adanya kesepakatan terkait anggaran tembok perbatasan yang diajukan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap pihak parlemen. Sayangnya rupiah sulit untuk menguat signifikan karena yuan melemah usai China menambah tingkat likuiditas. “Upaya intervensi BI di berhasil menstabilkan rupiah,” ujar Josua, seperti dilansir Kontan.

Senada, Analis CSA Research Institute Reza Priyambada menuturkan jika dolar AS bergerak melemah karena adanya potensi pelemahan pada Amerika Serikat karena imbas dari perang dagang dan shutdown pemerintahan AS. “Secara sentimen, itu yang membuat dolar AS mengalami pelemahan terhadap sejumlah mata uang dunia, termasuk rupiah,” ujar Reza.

Lebih lanjut Reza menambahkan, penutupan pemerintahan Amerika Serikat pun memicu imbal hasil obligasi AS menjadi lebih rendah, sehingga membuka peluang aliran dana asing menuju negara-negara , termasuk .

Sementara itu, pada Jumat (28/12), Analis Monex Investindo Futures Faisyal mengungkapkan bahwa rupiah akan merespons data consumer confidence AS. Hasil indeks kepercayaan di AS ini diprediksi kurang bagus. Apabila sesuai dengan perkiraan, maka rupiah kembali berkesempatan untuk melaju ke zona hijau.

Pasalnya rilis data tingkat keyakinan konsumen AS ini menjadi salah satu faktor yang dicermati oleh para pelaku pasar. “Jika data tingkat keyakinan konsumen AS dirilis lebih rendah dari perkiraan, dolar kemungkinan akan kembali tertekan,” tandas Analis Monex Investindo Futures Putu Agus Pransuamitra.

Loading...