Efek Brexit Masih Terasa, Rupiah Melemah di Awal Pekan

diprediksi masih akan melanjutkan tren pelemahan pada awal pekan (27/6) ini. Pasalnya, efek Brexit yang langsung direspon pelaku dengan mengakumulasi dolar AS masih terasa meski hanya sementara.

Seperti dilaporkan Index, rupiah mengawali perdagangan dengan pelemahan sebesar 77 poin atau 0,57% di posisi Rp13.468 per dolar AS. Kemudian, mata uang Garuda kembali terdepresiasi 112 poin atau 0,84% ke level Rp13.503 per dolar AS pada pukul 08.17 WIB.

“Akhir pekan kemarin, hasil polling Brexit langsung direspon pasar dengan mengakumulasi dolar AS,” ujar Kepala Riset NH Securities Indonesia, Reza Priyambada. “Ini membuat indeks dolar AS berhasil 2,15% ke level 95,21 dan berimbas pada melemahnya rupiah.”

Ditambahkan Reza, keadaan tersebut diperkirakan masih dapat terjadi dalam jangka pendek sehingga menyebabkan pelemahan lanjutan pada rupiah. “Namun, pelemahan rupiah masih lebih baik jika dibandingkan yang terjadi pada pound sterling atau penguatan ,” sambung Reza.

Memang, setelah pengumuman hasil referendum yang memutuskan Inggris keluar dari Uni Eropa, kurs pound sterling terhadap dolar AS langsung hingga 10%. Sementara, dolar AS atas yen menyentuh level terendah dalam 30 tahun terakhir. “Kepanikan yang melanda membuat rupiah terdepresiasi. Tetap cermati sentimen yang ada,” saran Reza.

Sementara itu, Research and Analyst PT , Faisyal, mengatakan bahwa meski efek Brexit masih dirasakan rupiah, tetapi pelemahan yang terjadi kemungkinan hanya sementara mengingat tidak besarnya hubungan Inggris dengan Indonesia. “Efek Brexit memang masih akan memengaruhi rupiah hingga awal pekan ini lantaran belum ada rilis data dalam negeri,” katanya.

Loading...