ECB Tahan Suku Bunga, Rupiah Lagi-Lagi Tak Berdaya di Hadapan USD

Rupiah - www.harnas.coRupiah - www.harnas.co

Jakarta – Nilai tukar dibuka sebesar 22 poin atau 0,15 persen ke level Rp 14.485 per AS di awal pagi hari ini, Jumat (27/7). Sebelumnya, Kamis (26/7) kurs Garuda ditutup terapresiasi 12 poin atau 0,08 persen ke posisi Rp 14.463 per USD setelah diperdagangkan pada rentang angka Rp 14.431 hingga Rp 14.452 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau menguat. Di akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,39 persen menjadi 94,748 lantaran European Central Bank (ECB) memutuskan untuk menahan utama di zona Euro.

Suku bunga dasar zona euro atau suku bunga untuk operasi pendanaan ulang (refinancing) utama diputuskan tidak berubah di level 0,00 persen, sedangkan suku bunga pinjaman (lending facility) berada di level 0,25 persen, dan suku bunga deposito juga tetap -0,40 persen.

Pada yang dirilis oleh ECB setelah pertemuan terakhir, ECB berharap agar suku bunga utama akan tetap pada tingkat saat ini setidaknya hingga musim panas tahun 2019 depan, dan dalam hal apapun selama diperlukan untuk memastikan berlanjutnya konvergensi inflasi berkesinambungan ke tingkat yang di bawah, namun mendekati 2,00 persen dalam jangka menengah. ECB juga menegaskan, pembelian aset bersih bulanan akan dipangkas menjadi 15 miliar euro (USD 17,6 miliar) mulai Oktober sampai akhir Desember 2018 dan bahwa pembelian bersih juga akan berakhir.

Kemudian Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat melaporkan, pada pekan yang berakhir (21/7), angka pendahuluan klaim awal yang disesuaikan secara musiman mencapai 217.000, naik 9.000 dari level yang direvisi pekan sebelumnya. Tingkat pekan sebelumnya direvisi naik 1.000 dari 207.000 jadi 208.000. Rata-rata pergerakan 4 minggu mencapai 218.000, turun 2.750 dari rata-rata yang direvisi pekan sebelumnya. Rata-rata pekan sebelumnya direvisi meningkat 250 dari 220.500 jadi 220.750.

Dari dalam negeri, meski sempat menguat, rupanya rupiah diprediksi akan kembali melemah karena mulai hari ini hingga pekan depan akan ada banyak data-data ekonomi AS yang dirilis dan berpotensi mengakibatkan pergerakan rupiah semakin volatil. “Besok (hari ini) ada data estimasi pertama pertumbuhan bruto (PDB) AS di kuartal kedua. Sepertinya, rupiah akan cenderung tertekan,” kata Lukman Leong, analis Valbury Asia Futures, seperti dilansir Kontan.

Loading...