ECB Bakal Naikkan Suku Bunga, Rupiah Belum Mampu Bangkit dari Zona Merah

Kurs Rupiah - www.viva.co.idKurs Rupiah - www.viva.co.id

Jakarta dibuka melemah 33 poin atau 0,24 persen ke level Rp 14.070 per di awal perdagangan pagi hari ini, Rabu (16/5). Kemarin, Selasa (15/5), mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 64 poin atau 0,46 persen ke posisi Rp 14.037 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,64 persen menjadi 93,183 lantaran meningkatnya suku bunga obligasi yang turut meningkatkan minat investor terhadap mata uang.

Berdasarkan laporan terbaru, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun mencapai 3,058 persen pada Selasa (15/5). Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak tahun 2011. Imbal hasil sendiri merupakan acuan untuk suku bunga KPR (Kredit Pemilikan Rumah) dan instrumen lainnya yang belum lama ini meningkat karena ditunjang tanda-tanda naiknya inflasi. Hal tersebut sekaligus mendorong spekulasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga lebih banyak tahun 2018 ini.

Menurut para analis, kemungkinan relaksasi ketegangan perdagangan antara China dan Amerika Serikat telah membantu mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS serta menopang The Greenback di pasar spot.

Dari sektor ekonomi, Departemen Perdagangan Amerika Serikat melaporkan bahwa perkiraan awal ritel dan jasa-jasa makanan AS pada bulan April 2018 mencapai angka USD 497,6 miliar, naik 0,3 persen dari bulan sebelumnya, sesuai dengan prediksi pasar.

Menurut Ekonom Bank Central Asia () David Sumual, rupiah kembali ke level Rp 14.000 karena adanya sinyal bahwa European Central Bank (ECB) akan menaikkan suku bunga acuannya pada tahun depan. Ditambah lagi, AS baru saja meresmikan kedutaan besar di Yerusalem yang berpotensi meningkatkan ketegangan di Timur Tengah. Oleh sebab itu sebagian investor memutuskan untuk kembali beralih ke aset safe haven, termasuk USD.

Di sisi lain, analis Valbury Asia Futures Lukman Leong memaparkan jika defisit neraca perdagangan sebesar USD 1,63 miliar juga ikut menahan laju rupiah. Terlebih karena adanya isu terorisme di Indonesia membuat posisi rupiah di pasar keuangan menjadi lemah. “Usaha BI untuk intervensi jadi berat,” kata Lukman, seperti dilansir Kontan.

Loading...