Dukung UMKM, Tarif PLN B1 Ternyata Lebih Murah dari Tarif Listrik Rumah Tangga

Tarif Listrik - www.rmolsumsel.comTarif Listrik - www.rmolsumsel.com

Tarif tenaga untuk non-subsidi sebelumnya dihitung berdasarkan aturan tiap 3 bulan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pun hingga kini tampaknya masih belum menetapkan aturan baru mengenai tarif dasar listrik untuk tahun 2019. Hingga kini masyarakat masih dikenai tarif listrik berdasarkan ketentuan terakhir periode Oktober sampai Desember 2018. Sementara itu, untuk tarif PLN B1 (subsidi) saat ini justru kabarnya lebih murah dari tarif listrik .

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan beberapa waktu lalu mengungkapkan jika tarif tenaga listrik masih dibiarkan tidak berubah guna menjaga daya beli masyarakat dan juga mendukung stabilitas ekonomi . Padahal berdasarkan sejumlah parameter ekonomi makro seperti nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, kenaikan Indonesian Crude Price (ICP), dan tingkat semestinya menjadi alasan untuk diberlakukannya penyesuaian tarif tenaga listrik (tariff adjustment).

Menurut Kepala PLN Ranting Sawerigading Palopo, Bontos Himawan, penetapan tarif listrik rumah tangga yang lebih mahal dibandingkan tarif bisnis adalah upaya dari PT PLN (Persero) untuk menghidupkan UMKM sebagai bagian langkah pemerintah menggairahkan perekonomian nasional. “Itulah kenapa pemerintah mencabut subsidi pelanggan rumah tangga mampu. Dan memberi subsidi kepada pelanggan bisnis skala UMKM. Untuk pelanggan bisnis besar dengan daya 5.500 VA ke atas tidak disubsidi,” jelas Bontos, seperti dilansir Fajar.

Sebagai informasi, tarif PLN B1 kategori pelanggan bisnis subsidi untuk golongan tegangan 450 VA dikenai Rp 535 per kWh, kemudian daya 900 VA tarifnya Rp 630 per kWh, 1300 VA Rp 966 per kWh, serta 2200 VA, 3500 VA, 4400 VA, dan 5000 VA tarifnya seragam, masing-masing Rp 1.100 per kWh.

Direktur Utama PLN Sofyan Basir memperkirakan jika pertumbuhan listrik akan mengalami kenaikan 8,3 persen hingga tahun 2026 mendatang. Adapun pelanggan dari kelompok bisnis akan menjadi penyumbang utama dengan proyeksi pertumbuhan yang mencapai 9,5 persen.

Sedangkan pertumbuhan penjualan untuk kelompok pelanggan lainnya seperti kelompok mencapai 9,2 persen, rumah tangga 7,1 persen, dan publik sebesar 7,5 persen. “Penjualan listrik tertinggi di Jawa-Bali dengan rata-rata pertumbuhan 7,2 persen,” beber Sofyan.

Loading...